Minggu, Oktober 26

Buku Tidak Bermanfaat

0 komentar
    
Sumber gambar: www.friendskorner.com    
 
      “Gal kok lo bisa tahan sih baca buku lama”
     “Kebiasaan ka, diawal gua mulai baca buku, buku yang dibaca itu menarik banget buat gua. Jadi pas pertama kali baca buku itu, bukunya langsung gua habisin. Buku selanjutnya juga sama”.

      Sudah kurang lebih tujuh tahun sejak saya mulai sadar akan pentingnya membaca buku. Baru puluhan buku yang sudah saya baca sampai habis. Bukan buku pelajaran yang selalu menginspirasi di kelas, tapi buku-buku yang menginspirasi prinsip hidup. Bukan berarti buku pelajaran di kelas tidak menginspirasi hidup, pasti mengispirasi. Tapi buku-buku dikelas semua orang mendapatkannya, buku di luar kelas tidak semua.

      Hampir setiap bulan saya membaca satu buku, dengan tema yang berbeda. Buku-buku nonfiksi dan semi nonfiksi memiliki makna yang lebih bisa dipercaya. Karena hal tersebut benar terjadi dan bukan khayalan semata seperti buku-buku fiksi. Buku-buku nonfiksi memiliki alur yang tidak dibuat-buat. Seperti apa adanya terjadi. Keyakinan akan isi buku lebih kuat.

      Banyak ilmuan, tokoh agama, sosiolog, politisi, jurnalis menggunakan buku untuk berbagi pengetahuan. Para sastrawan menggoreskan kesusastraanya di buku. Kitab-kitab agamapun tercetak dalam bentuk buku. Buku sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa terpisahkan dari kita, seharusnya.

     Buku bisa menjadi nihil dan omong-kosong belaka. Kalimat yang diutarakan penulis dalam bukunya hanya sia-sia, dan percuma nulis banyak-banyak. Nilai dan poin yang ditembakan pada pembaca tidak tepat sasaran dan meleset. Bahkan anginnya pun tidak terasa sama sekali. Pengetahuan yang tercetak dalam buku tersebut seolah menguap dan tidak ada jejak. Kata demi kata hilang entah kemana. Lalu apa yang terjadi?

     Ini sentilan bagi diri saya sendiri dan mungkin bagi pembaca yang juga sudah membaca belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan buku. Saya sudah menghabiskan banyak waktu hidup saya untuk membaca. Tapi apa yang saya baca belum semuanya saya lakukan dan aplikasikan, beberapa lupa. Konten bicara pun belum bisa menceritakan kembali buku-buku yang pernah dibaca untuk berbagi dengan yang lain. Sebutlah buku pengembangan diri ESQ, Young on Top, Bumi Manusia, dan lain-lain. Semua buku tersebut merupakan hasil pikiran orang-orang yang mendapatkan kelebihan di bidang tertentu serta memiliki nilai. Pikiran mereka, pengetahuan mereka, pengalaman mereka seharusnya menjadi inspirasi hidup. Buat apa membaca jika tidak ada satu hal pun yang berpengaruh dari bacaan yang dibaca. Menyelesaikan buku hanya sebagai pemenuh kepuasan karena sudah membaca buku sampai selesai. Sebagai gengsi bahwa sudah menyelesaikan sebuah buku. Setelah sampul ditutup, mata, pikiran, hati pun ikut menutup dari buku itu.
 
"Jika membaca itu hanya sekedar pengisi waktu,penghilang kebosanan, adu gengsi, peluruh kewajiban, dan memenuhi tuntutan, hal ini terlalu sempit. Padahal manfaatnya lebih luas dari hal itu"

     Lantas salahkah membaca banyak buku?. Terlalu ekstrim mengatakan keharaman tentang membaca banyak buku. Hal tersebut tidaklah salah, konsekuensi setelah membaca tulisan itu yang perlu diperhatikan.Sangat disayangkan waktu yang sudah dihabiskan untuk menyelesaikan membaca sebuah buku. Jika membaca itu hanya sekedar pengisi waktu, penghilang kebosanan, adu gengsi, peluruh kewajiban, dan memenuhi tuntutan, hal ini terlalu sempit. Padahal manfaatnya lebih luas dari hal itu. Setiap pembaca yang baik dan budiman tentunya akan berusaha untuk menjadikan peran buku lebih bermanfaat.

     Saya yakin pembaca vivacious ini sudah menjadi pembaca banyak buku. Sangat keren sekali jika saat ngobrol dengan yang lain maupun tidak, dapat berbagi pengetahuan serta inspiras dari buku yang sudah dibaca. Indonesia masih kurang loh pembaca bukunya, katanya mau jadi bangsa yang cerdas?


Continue reading →
Kamis, September 25

Salah Satu Potensi Terbesar di Indonesia

0 komentar
          Saya sekarang sedang menjalani studi di Institut Pertanian Bogor. Banyak hal yang saya temui disini. Hal yang seharusnya dapat mensejahterakan bangsa Indonesia sejak dahulu. Hal yang seharusnya dikelola dengan baik dapat mendapatkan pundi-pundi dolar sehingga Indonesia tidak ngutang-ngutang. Semua orang  perlu tahu.
           Indonesia memiliki potensi di perkebunan kelapa sawit. Kenapa kelapa sawit? Silakan simak video ini terlebih dahulu.

Kenapa Palm Oil?

        

        Video diatas tentang salah satu kelebihan dan potensi produk kelapa sawit. Masih banyak loh kegunaannya. Ada dua video lagi yang menceritakan tentang kelapa sawit. Apakah kedua video ini ditunjukan untuk kepentingan suatu kelompok? dan menjatuhkan yang lain? Mari disimak.

Ini Pro?



Atau Ini yang Kontra?



       Saya tidak bermaksud untuk meminta kamu menilai kedua ini secara hitam dan putih. Mari lihat secara abu-abu. Artinya tidak langsung menilai yang ini benar dan lain salah. Setiap orang punya pandangan yang berbeda. Kita perlu untuk meninjau kembali, walaupun hal ini telah lama terjadi.

       Apakah kedua video ini benar hanya sekedar opini? atau ada maksud lain selain memberikan informasi? Nanti akan ada pembahasan lanjutan mengenai ini, jadi silakan tunggu tanggal mainnya ya. Oya sekedar info ternyata Presiden Indonesia SBY pun sedang memperjuangkan  industri kelapa sawit Indonesia di dunia loh. Kalau kamu gimana?
Continue reading →
Selasa, September 16

Cuma Buat Yang Kepo MPKMB 51, Masa Pengenalan Kampus IPB.

0 komentar
          "Gue kangen MPKMB lagi lang, pengen panitiain lagi" . Yaah...temen saya mantan panitia MPKMB ini curhat deh. Maaf kawan, but time we cannot turn it back.
       

           Ini nih ospeknya IPB  (Institut Pertanian Bogor), MPKMB namanya. Semua panitianya itu yang baru tahun pertama di kampus, yang baru lulus TPB (Tahap Persiapan Bersama). Panjangannya Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru, dan saya menjadi salah satu panitia acara di MPKMB buat angkatan 51. Kesannya jadi panitia? Gimana? Terus scroll aja ke bawah deh.


Tentang MPKMB tahun ini

           
            Laporan dulu aja ya. MPKMB tahun ini berlangsung selama 5 hari. Dua hari Pra MPKMB dan tiga hari adalah hari H MPKMB. Pra I dilaksanain pas lagi puasa. Tujuannya sih buat basa basi dulu aja tentang MPKMB. Tapi basa basinya anak IPB tau lah ya, pake launching theme song sama koreonya segala. Ditambah lagi ada aksi dari Azimut yang turun dari atap Gymnasium bawa bendera. Terus ada adu jargonnya segala, banyak deh. Ini baru basa basi, apa lagi hari H nya yah.
            Pra II MPKMB dilaksanain di gedung kuliah mahasiswa TPB, yang katanya gedung kuliah paling enak di IPB. Tujuannya buat merangsang nasionalisme mahasiswa baru, kebetulan hari itu juga tanggal 17 Agustus. Kegiatannya ada nonton bareng film Indonesia, kalo ga salah judulnya "Tanah Surga, Katanya". Film ini produsernya bang Dedi Mizwar, mantap banget tuh filmnya. Rekomendasi buat ditonton.
            Setelah seminggu berselang, saatnya hari H MPKMB. Tanggal 25-27 Agustus 2014. Dibuka sama Bapak Rektor IPB. Beliau naik kuda tuh pas masuk ke gedungnya. Di hari I lebih ke pengenalan kampus dan acara lebih dekat dengan rektor. Bapak Rektor kami nyanyi bareng sama angkatan 51. Yaaa tentu semua antusias. Bisa di cek di twitter peserta MPKMB 51 pas tanggal 26 malamnya.
             Hari II saatnya kritisisasi (Apaan lagi Kritisisasi) mahasiswa diajarkan. Tema yang diangkat tentang kemandirian pangan di Indonesia dan krisis pangan. Hari ini ada simulasi aksi yang jadi acara tahunan di MPKMB. Intinya sih ngajarin mahasiswa baru kalo yang namanya aksi atau demo itu ada etika dan prosesnya. Info aja buat kawan yang bukan mahasiswa tukang demo atau bukan mahasiswa. Setiap aksi dan demo yang dilakukan mahasiswa itu adalah sebagai langkah terakhir untuk memberikan kritikan pada pemangku kebijakan. Sebelumnya mahasiswa selalu berunding dan berdiplomasi dengan pemangku kebijakan tersebut. Tapi eh... yang namanya orang susah banget buat di kasih tahu, dia ga nurut. Yaudah demo dan aksi kejalan aja. Biar orang-orang kalo tau ada yang ga bener. Lalu apa yang salah dengan aksi dan demo mahasiswa yang muncul di media? Wah bakal panjang banget nih. Entar aja ya itu mah. Skip. Bentuk aksi di MPKMB ini sedikit berbeda dari kebanyakan aksi di jalanan. Kita coba untuk lebih kreatif dalam menyampaikan aspirasi, nyari perhatian masyarakat lewat seni. Ada yang nyanyi, poster, teaterikal, dan puisi. Kita coba sampaikan kalo aspirasi pada zaman sekarang tidak harus ndemo. Bisa lewat youtube, blog, dan lain-lain.
             Hari III, hari terakhir MPKMB 51. Isinya penutupan sama ngunjungin tempat-tempat di IPB. Tepatnya belasan tempat dikunjungin dan dibagi ke beberapa kelompok. IPB tuh luas, banyak banget tempat yang ga terekspos dan bagus tapi mahasiswa gatau tempat itu. Karena terlalu sibuk ngerjain laporan dan ngurusin bangsa, jadi lupa sama dunia sekitarnya, hehe. So, we try to explain that IPB have any place to explore. Ada award dan penghargaan juga buat peserta. Ada juga live theme song MPKMB 51.  Habis itu tentunya ada closing. Ini moment dimana panitia dan peserta merasakan Euforia MPKMB selama 5 hari itu. Semua kerja keras dan rasa capek panitia serta peserta selama MPKMB 5 hari itu terbayarkan. Semua tertawa, ceria, berteriak, menari bersama.
             Wah kalo diliat dari perspektif penampakan di Stage keliatan mulus banget. Lancar, dan selesasi. Terus gimana belakang stage itu? Scroll lagi kebawah.

Dalemnya MPKMB 51

            Engingeeeeeeeeeengg...
            Karena saya adalah staf di Seksi acara, jadi saya lebih menitik beratkan di acara aja ya. Walaupun nanti ada nyenggol dikit ke masalah lain.
            Udah ga inget kapan pertama kali kita kumpul. Intinya sih, itu moment dimana saya keluar dari gua tempat persembunyian saya sebagai pertapa dota. Korban game masa kini. Ketinggalan peradaban. Jangan ditiru!
           Perkenalan dan sebagainya. Langsung buat ini itu, itu ini. Hanya beberapa minggu saja, kita sudah akrab satu sama lain. Ya, karena kita bisa kumpul hampir setiap hari. Obrolin konsep yang ga pernah fix. Fixnya pas baru MPKMB selesai dilaksanakan. Pas masih dilaksanain itu masih belum fix, 70% bisa berubah.
          Selama perjalanan, saking seringnya kumpul, kita kenal karakter satu sama lain. Kumpul dari pagi ampe malam, mungkin bisa ampe pagi kalo ga diperlakukan jamal di  kampus. Error bareng-bareng. Kayang bareng-bareng, dalam khayalan tapi. Kayaknya di seksi acara kalo ada perubahan gara-gara faktor eksternal kita cuma bilang "Ooh". Itu  saking sering nya terjadi sebuah perubahan. Tapi kalo tanpa perubahan "mendadak", bukan seksi acara MPKMB namanya. Ada lagi keseruan acara pas sebelum Pra MPKMB dimulai,k dibantuin sama temen-temen panitian lain juga. Promosi acara Pra I MPKMB. Teriak-teriak depan lalu lintas pejalan kaki angkatan 51. "Griatama, Gathering Akbar Pertama. MPKMB 51..." kurang lebih kami berteriak seperti itu bareng-bareng, dengan rasa "agak" malu. Kami bisa saja lebih malu lagi jika saat acara Pra I nanti sedikit yang datang, tapi ini tidak terjadi.
           Oke, ke TKP Pra 1 MPKMB. Dari luar sih oke-oke aja. Dari dalemnya juga emang ga teralalu bermasalah, kecuali korlapnya yang sempet sakit gara-gara ngurusin MPKMBnya terlalu bersemangat hehe... Pra I Selesai lanjut ke Pra II. Pra II , jauh dari rencana awal, banyak komplain dari sana sini yang kalo komplainnya ga diterima, Pra II MPKMB terancam ga bisa dilaksanain. Padahal konsep awal sudah sekitar 80% fix tinggal eksekusi. Dalam waktu beberapa jam harus diubah dan beberapa hari kemudian harus udah jadi konsepna. Waaah... Kritis amat ya. Akhirnya kita terima komplain tersebut dan langsung ngebut buat konsep baru yang lebih matang, lebih gereget, dan lebih berkesan serta nasionalis. Hari I, acaranya ada sambutan dan penampilan serta pengenalan kampus lebih dalam. Dari segi konsep, yang saya lihat paling rempong adalah saat berurusan dengan opening. Tapi lebih rempong lagi saat hari H dimulai, acara tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan karena suatu hal, di backstage udah kaya kapal dalam badai. Hari II MPKMB, susunan acara baru fix saat sebelum maghrib H1 MPKMB. Hebaaaaaaaattt... Kita dapat pelajaran supaya buat Susunan acara lebih dari 3 versi. Terutama kalo  ngundang orang yang super penting, dimana kegiatan dia bisa berubah sewaktu-waktu. Hari III lebih heboh lagi terutama pas ngonsep acara. Skandalnya persis seperti Pra II tapi dikasih waktu lebih. Tapi nya lagi perubahannya cukup membuat tim Hari III harus bekerja 3-5 kali lebih keras dari konsep sebelumnya. Karena harus membuat banyak tor dan susunan kegiatan. Kenapa banyak? Yaiyalah, setiap tempat yang dikunjungi paling tidak harus disurvey, dikonfirmasi, dibuat acaranya, dibuat konsepnya. Wah...wah... Semangat ya Hari III!!! Belum lagi setelah itu ada acara indoor, yaitu penutupan dan award yang lumayan harus dikasih perhatian lebih juga. Tapi Top deh Buat hari III
              Kesimpulannya di dalam tubuh panitia acara sendiri yang paling santai adalah hari kedua. Benerkan ya? hehe... Hari apapun dan Pra apapun semua butuh perhatian yang gak bisa diperhatiin sama segelintir tim yang sudah dibagi saja. Ini kompleks. Butuh koreksi dari luar tim.
           
Kesan dan Pesan

             Nah loh baru Kesan dan Pesan.
             Intinya sih sangat berkesan. Sebagai panitia acara, bisa kenal lebih dekat dengan 25 orang dalam beberapa bulan saja itu udah sangat jarang banget. Satu lagi, jadi acara jangan berharap dari manusia dapat popularitas, apalagi sekedar ucapan terimakasih, karena kerjaanmu itu loh mas, mba. Cuma gusti allah yang liat, hehe. Secara umum di kepanitiaan ini, kita bisa tahu melihat dan menonton orang berkomitmen dan tidak. Berkomitmen tinggi dan kurang tinggi. Melihat mahasiswa yang 70% akan jadi pemangku jabatan di kampus. Kebanyakan panitia disini adalah yang bisa merealisasikan komitmennya. Hubungan antar panitia lebih dekat dibandingkan kepanitaiaan lain di IPB. Saya rekomendasikan buat seluruh mahasiswa angkatan tahun pertama di IPB buat jadi panitia MPKMB (Kalo masih ada tahun depannya). Bener deh guys, kalo nyesel pas jadi panitia nanti, uang pendaftarannya bisa dikembalikan, hehe... Walaupun ga menjamin jadi panitia ini adalah orang-orang yang sangat berkontribusi. Tapi yang berkontribusi pasti mau jadi pantia MPKMB. 

Thanks God, you gave me a chance to get and make the beautiful story



Buat dokumentasinya bisa diliat disini.

Continue reading →

MPKMB 51, Flashback dan Visualisasi

0 komentar


Selamat menikmati dokumentasinya MPKMB 51. Ga bikin bosen kok, Suerrrr..

.

Teaser MPKMB 51








Pra MPKMB I







Pra MPKMB II






Ini nih Dokumentasinya 3 Hari MPKMB 51






Tentang MPKMB 51 Bisa dicek disini
Continue reading →
Minggu, Agustus 10

For Foranza

0 komentar
“...untuk memperingati tahun baru Hiijriyah selama empat hari yang tanggalnya merah, kalian Libur, dan kalian boleh pulang kerumah...”. Sontak seisi mesjid ramai bersorak tertahan mendengar pengumuman yang disampaikan kepala sekolah. Sejenak setelah pengumuman, para siswa otomatis membentuk lingkaran masing-masing dengan sahabat mereka. Aku beranjak menuju serambi kiri mesjid, Ulum memanggil dan mengajakku.
“Jalan-jalan yuk”. Ulum mengajakku untuk liburan bersama. Secara sadar aku menjawab
“Ceremai!, oke deh,  gua bilang ortu dulu”. 
***
“Galang juga langsung ngerti Tas”. 
“Yaudah deh, kita langsung siapin aja”.
“Tapi jangan bilang-bilang siapa dulu, tar kalo ga jadi bisa memalukan”. Langsung kami menyusun strategi untuk menuju gunung tertinggi di  Jawa Barat. Bagiku ini akan menjadi perjalanan kedua kalinya. 
Di kamar salah satu gedung F, Retas menuliskan apa yang harus dibawa, jadwal dan apa yang harus dilakukan pada tanggal enam belas sampai kami kembali pada tanggal delapan belas November pada kampus Insan cendekia ORI.
Wajah serius, sedikit tawa dan diam-diam mewarnai rencana ini. Jadi beginilah rencananya. Kami akan meninggalkan MANICS sebelum salat jumat, pergi keluar dan menuju Minimarket terdekat untuk memesan tiket kereta menuju Cirebon, atau langsung ke Tanah Abang dan membeli peralatan. Lalu, pergi kerumahku yang ada di Majalengka sebelum malam tiba. Beristirahat sejenak lalu pada sore hari pergi menuju Desa Apuy, desa terakhir sebelum kami muncak. Aku kabarkan rencanaku itu pada kedua Ortuku. Awalnya mereka tak mengizinkanku, dengan lobi yang pas dan gaya seorang anak meminta pada Ortunya akhirnya aku diizinkan oleh mereka. Terimakasih ayah dan ibu tercinta. Namun dengan syarat ditemani oleh teman ayahku yang pernah menemaniku pergi muncak ke Ceremai yang pertama.  Ternyata eh ternyata, teman ayahku itu tidak bisa menemani, maka ayahku menyarankan porter untuk menemani kami menuju puncak Ceremai.
“Gak usah aja Gal, insya allah kita bisa kok”. Aku sampaikan perkataan itu pada kedua orang tuaku, dengan berat hati mereka mengizinkanku. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi.
Beberapa hari lagi kepulangan akan datang. Tiba-tiba ada kabar bahwa ketua angkatan cowo Foranza akan ikut serta dalam perjalanan ini. Rowi namanya. Sebelumnya dia memang mengajakku pergi ke gunung setelah Ulum memberitahuku, aku manggut saja dan sekarang dia fix akan ikut serta. Oke deh.
“Gua gak enakan sama yang lain, masa yang lain gak diajak”.
“Nanti aja deh, sekarang kan liburannya mepet, lagian yang lain juga udah punya rencan sendiri-sendiri”.
“Jaket, tas, senter, sarung tangan, kupluk...”. Kami mengeja peralatan yang disiapkan disini. Lalu yang kurang kami akan penuhi di tanah abang.
***
Pagi sebelum jam sepuluh, kami telah keluar kampus. Melangkahi ketentuan yang seharusnya setelah salat jumat. Ini harus dilakukan agar kami bisa mencapai tempat tujuan lebih cepat. 
Ke Minimarket terdekat, memesan tiket. 
“Ayo dek cepetan kalo mau mesen tiket”. Kasir memburui kami untuk cepat memberikan identitas. Kasir langsung mengetik apa yang kami sampaikan.
“Yaaaah, udah dipesan duluan sama Minimarket lain, maaf dek tiketnya habis”. Tiba-tiba sang kasir kecewa. Kamipun ikut kecewa.
“Kalo mau yang hari ini berangkatnya harus mesen langsung di stasiunnya”.
“Oh gitu ya mba, kalo yang ke sini dan tanggal ini ada ga....”. Retas membeli tiket lain untuk teman yang akan pulang di liburan semester satu. Banyak diantara teman-teman IC yang rumahnya di Jateng jauh dari BSD. Sehingga mereka menitipkan tiket menuju Kampungnya pada kami.
Dengan perasaan nekad harus sampai ke Majalengka, kami melanjutkan langsung ke tanah abang. Di Tanah Abang tiket untuk menuju Cirebon sudah habis, kata informan yang ada disana untuk jam satu siang. Kami berusaha mencari lagi untuk hari ini. Orang bilang kalo mau pesen tiket kereta ekonomi harus jauh-jauh hari. Sayang seribu sayang kami baru mengetahuinya.
Kami berusaha mencari tiket kereta menuju Cirebon. Ada!!! Tapi kereta eksekutif dan Mahal.Tapi ternyata masih Ada!!! Kereta Ekonomi berangkat pada pukul empat sore. Berarti akan menghapuskan rencana kami untuk bisa melihat sunrise di puncak.
“Berangkat jam empat nyampe jam setengah delapanan”.
“Yaudah, ga apa-apa deh”. Kami menerimanya, jikalau kami memakai bis, kami harus ke bekasi dulu dan akan memberi waktu lebih lama menuju Majalengka yang memakan sampai enam jam perjalanan.
Berempat kami berbelanja barang-barang yang diperlukan. Adzan jumat berkumandang. Kami akan salat jumat dahulu. Meleset, lalu Kami salat seperti biasa. Makan siang dan memenuhi perlatan yang diperlukan. Ceremai, kami datang.
Naik kereta pukul empat lebih, kebiasaan Indonesia. Rowi kami suruh untuk tidur di kereta, karena sebelumnya dia terlalu asik pada malam kemarin. Tiba di Cirebon pada pukul delapan malam lebih. Di stasiun Prujakan Ortuku telah menunggu, menjemput kami semua. Mereka memberiku kupluk bagus untukku keatas muncak. Kami pun pulang ke Majalengka selama sejam, makan di rumah makan langgananku saat aku pulang dari sekolah SMP ku yang berasrama.
Belanja di Tanah abang
Tiba dirumah, Majalengka. Ternyata ibu telah mempersiapkan semuanya, parafin, air minum, obat-obatan, nasi dan lauknya, nesting, dan semua yang diperlukan. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi. Retas, Ulum, Rowi dan aku beristirahat, mandi serta salat dan bersiap-siap sekali lagi.
Kami berangkat menuju desa Apuy. Ayah telah memesan mobil untuk kami menuju basecamp. Ternyata misskomunikasi. Sang sopir mengira kami akan berangkat besok pagi jam sepuluh. Tapi kami berencana jam sepuluh malam. Sedikit berdebat. Ayah memintaku untuk berangkat besok saja.
“Gak bisa yah, harus malam ini”. Aku sedikit membentaknya.
 Akhirnya kami membatalkan mobil pesanan yang telah membuat kami menunggu lama. Kami berangkat sendiri. Ayah tak tahu jalan, dan hampir tersesat. Sopir mobil tadi ternyata membuntuti kami, lalu mengarahkan kami menuju basecamp yang sebenarnya. Urusan pertama selesai. Mobil kuda yang ditumpangi kepanasan.
Di basecamp kami mendaftar dan menuliskan di buku tamu dengan “Foranza Sillnova”. Dari basecamp aku berpisah dengan ayah dan kakaku meminta didoakan agar selamat. Setelah itu Retas, Ulum, Rowi dan aku  menuju tempat start pendakian memakai mobil yang membantu kami tadi. 
“Seperti biasa sebelum para pendaki berangkat...kita datang disini untuk mengagumi alam yang diciptakan sang Pencipta, menyadari bahwa kita itu kecil dibandingkan dengan ciptaanNya dan kuasaNya...”. Retas memuqodimahi kami sebelum berangkat. Lalu memanjatkan doa dengan khusyu ditemani oleh angin malam dan kesunyiannya. Pemanasan agar labih enak, dan tos bersama “We R One –For Foranza- We R Here –For Foranza- Foranza –Sillnova-”. Menggema membuyarkan kesunyian yang menetap.
“Bismillahirahmanirahim, kita berangkat”. Jam satu malam kurang, dengan langkah yang pasti kami berjalan menyusuri jalan-jalan yang telah ada dan terbentuk setapak. Alang-alang menyambut kami dengan belaian mereka yang kasar menyentuh kulit. Membuat kami harus berhati-hati kalau-kalau belaian mereka terlalu kasar dan akan melukai.
Jalur yang kami lewati, aku sadari pernah aku datangi. Perjalanan kami terasa lama menuju pos satu. Aku cepat mengharapkan pos satu, satu-satunya pos yang aku datangi dulu yang memiliki atap dan tempat berteduh alias saung. Rencananya di pos itu aku akan melapisi pakaianku agar lebih hangat. Retas dan Rowi, tak nyaman dengan alas mereka yang memakai sendal biasa. Sehinggga mereka berdua mendesain sandalanya agar nyaman dipakai. Namun ternyata sendal Retas tak begitu nyaman dipakai, dia mencopot sendalnya dan tidak beralas kaki. Itu lebih nyaman baginya. Naik naik dan turun kami lewati, tanah yang basah membuat kaki-kaki mudah untuk kedinginan. Embun yang menempel di rumput mendukung tanah coklat untuk mendingini kaki-kaki kami-kami.
Akhirnya kami tiba di tempat saung seperti dulu di pos satu saat aku pertama kali mendaki Ceremai. Kami menaiki tiga anak tangga, lalu duduk di saung itu. Ngaso sebentar.
“Kita istirahat dulu sebentar disini”.
“Baru segini doang kok udah capek ya”. 
“Gara-gara dari Serpong langsung naek sih, di kereta juga lama”.
Kami membuka sebagian biskuit yang kami bawa, memakannya bersama. Hawa dingin terkalahkan oleh hangatnya persahabatan diantara anak manusia. Malam ini sepi, tak ada pendaki lain yang kami temui. Sunyi, di buku tamu saat di basecamp hanya ada satu dua rombongan yang berangkat selain kami. 
Melanjutkan perjalanan dengan lebih pasti. Aku mencari arah untuk melanjutkan perjalanan. Seingatku setelah pos satu ada petunjuk arah yang menempel di pohon menunjukan jalur selanjutnya yang harus kami tempuh. Aku cari-cari ternyata tidak ada. Mungkin sudah dicopot oleh yang lain. Kami meneruskan jalur setapak yang kami ikuti sejak awal. Harapku pada pos dua telah di depan mata.
Setelah beberapa lama.
“Tas, ada sarang laba-laba kena gue deh”. Rowi yang memimpin di depan mengabari hal yang janggal itu.
“Kok ada ya? Seharusnyakan gak ada, dua rombongan udah duluan berangkat sebelum kita”. Aku bertanya-tanya.
“Emang banyak kok Wi, gua juga kena terus dari tadi sebelum pos satu nih”. Ulum menimpali.
“Yaudah deh lanjutin aja dulu”. Akhirnya kami banyak menerobos sarang laba-laba yang menempel di kanan kiri samping kami. Terus melangkah, mengikuti jalan setapak yang memiliki semen buatan manusia.
“Sebentar!!! ada sarang laba-laba lagi  halangi jalan”. Sarang itu tersambung menjembatani dua daun yang terpisahkan oleh jalan setapak. Masih rapih, dan tidak terlihat sedikitpun cacat mewarnai sarang itu. Mungkin rombongan yang lewat sini jalannya menunduk dan tidak merusak.
Sarang Laba-laba yang ditengah jalan
“Gimana nih Tas? Kita lanjutin ga, kayaknya gak ada orang yang lewat sini sebelumnya”. Aku khawatir.
“Tau ni Gal, allah mengizinkan kita apa engga mendaki gunung in?”. Semua terdiam sejenak, berpikir dalam otaknya masing-masing. Mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
“Mmmmm... kita lanjutin dulu dan terobos sarangnya. Mungkin didepan kita gak ketemu lagi”. Rowi langsung menerobos sarang laba-laba yang menghalangi jalan kami.
“Maaf ya laba-laba”. Rowi menyingkirkan dengan perlahan sarang yang telah dibangun laba-laba itu.
“Mungkin laba-laba buat sarangnya cepet banget kali Cuma semalem kurang”.
Terus jalan, ditengah dinginnya hawa Ceremai yang terkalahkan oleh hangatnya keringat-keringat yang keluar dari pori-pori. Keringat yang telah keluar akan terasa dingin. Aku  rasa kostumku yang telah berlapis itu salah. Menghambat perjalananku karena kepanasan. Melewati pertigaan yang tidak aku sadari keberadaannya.
Ditengah perjalanan kami menemui  kembali sarang laba-laba yang lain. Lebih rapih dan menutup jalan. Dari atas sampai bawah. Tidak mungkin orang bisa menunduk melewatinya, karena pasti akan mengenai sarang laba-laba itu.
“Gimana ni?”.
“Kita balik lagi aja, cek pertigaan yang kita lewati tadi”. Dipertigaan itu terlihat tanda panah. Menuju puncak dan menuju apuy. Kami mencoba ke jalan yang lain. Ternyata jalannya menurun. Lebih tertutup oleh semak-semak dan dahan pohon. Kami ragu itu jalan yang benar. Kami bolak balik dengan ragu.
“Bismillahirahmanirahim aja deh, kita lewatin sarang laba-laba tadi”.
“Oke deh, maaf lagi ya laba-laba”. Kami melanjutkan perjalanan. Bercakap-cakap tentang perjalan ini. Terkadang bercanda membicarakan kisah orang yang diputar-putar perjalanannya sehingga tak mencapai tujuan. Tiba-tiba...
“Loh kok ada saung lagi? Pos satu lagi ya?”. Aku sedikit terkejut. Melihat dan memperhatikan ternyata sama. Ada saungnya, persis seperti waktu aku mendatangi pos satu saat pertama kali.
“Beneran lo Lum?...Gal, Cuma pos satu yang ada saungnya kan?”. Retas bertanya padaku yang lebih tau kondisi.
“Iya jeh, pas pertama kali ke Ceremai, gua Cuma nemuin satu saung doang”. Kawan yang lain deg-degan. Khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami terus mendatangi saung itu, mendekat dan terus mendekat. Mencoba menentang perasaan khawatir kami.
“Eh, tapi ini bukan saung yang tadi deh, soalnya gak ada tangganya”. Beberapa meter sebelum sampai saung, Ulum mengabarkan situasi yang terjadi.
“Oiya, emang beda”. Aku perhatikan lagi dengan seksama. Ternyata inilah pos satu yang sebenarnya. Ada bacaan pos satu. Saung tadi bukan pos satu. Ternyata ketika aku pertama kali ke Ceremai aku melewati jalan yang berbeda dari kali ini. Sial, malam menghalangiku untuk mengingat-ingat.
“Langsung evaluasi, apa aja kesalahan kita kemarin, biar gak ada beban”. Serempak berempat duduk disaung itu, saung yang sangat mirip dari saung sebelumnya, dengan semen menopang empat tiang kayu. Saung itu cukup diduduki oleh dua puluhan orang. Tidak lesehan, tapi duduk.
“Kayaknya gak ngajak-ngajak yang lain jadi karma”.
“Bisa jadi, kirim sms Tas ke anak-anak. Minta maaf dan doa”. Handphone yang kami harap ada sinyalnya kami coba manfaatkan. Retas ketik kalimat yang panjang dan penuh pengharapan  mendapatkan maaf dari teman-teman kami yang kami rasa telah kami lukai. Meminta doa mereka.
“kirim ke siapa nih...”.
“Ke anak-anak yang suka OL malem-malem”.
“Ok deh...”. Kami mencoba mengirim, namun belum ada laporan delivered. Kami bernafas, beristirahat, mengingat kesalahan kami tadi siang, tadi pagi, tadi sore. Oh ya, aku sempat membentak ayahku sebelum berangkat, astaghfirullah. Ada yang lupa ini dan itu, uang kembalian yang salah, dan yang paling kami sesali, menyembunyikan rencana perjalanan ini pada teman-teman kami yang telah dua tahun hidup bersama berasrama, telat salat. Oh banyak ya.
Perjalanan kami lanjutkan. Trek pos satu ke pos dua adalah yang paling berat. Terus menanjak dengan tanah dan akar membentuk tangga-tangga yang cukup tinggi. Mudah membuat kami merasa capek dan pegal dengan harus mengangkat tubuh kami lebih tinggi dari biasanya. Ilalang-ilalang mulai tergantikan oleh pohon-pohon tinggi yang tua. Tak ada pemandangan karena gelap. Kami di dalam hutan hujan daerah tropis Indonesia. Hanya berempat melewati tengah-tengah hutan belantara ini.
Pos dua kami lewati. Tenaga yang mulai hilang, rasa lelah yang sangt terasa. Fajar sudah hampir terbit. Rencana melihat sunrise benar-benar pudar. Tak mungkin kami menuju pos tujuh pos terakhhir di puncak dalam waktu dua jam, dengan kondisi yang kecapean dari perjalanan Serpong ke Majalengka. 
“Istirahat sebentar, habis itu pos tiga kita makan mie dulu, di pos empat kita tidur empat puluh lima menit terus salat subuh”.
Langsung kami menuju pos tiga, perjalanan yang sedikit lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Perjalanan yang lebih pendek dan sebentar dari sebelumnya. Lampu senter menerangi jalan setapak yang dilewati. Bintang mengiringi jalan menuju puncak Ceremai, angin dingin nan sepoi-sepoi tak mau kalah menemani kami hingga puncak nanti. Sampailah kami di pos tiga dengan selamat. Langsung saja semua menurunkan tas yang dibawanya, membuka tas dan mengambil mie yang telah dibawa. Ada nasi timbel juga yang telah ibu persiapkan untuk ini semua. Kami memasak mie ala kami dan sedikit nmemberi kami energi baru.
Masak Mie
Retas berjalan sedikit perlahan, mencoba berjalan dengan tanpa alas. Nyaman, namun harus hati-hati karena tanah yang keras dan licin. Perjalanan menuju pos empat, energi sudah terisi namun pegal-pegal di kaki masih terasa. Jalan-jalan kami di tanah abang, dan perjalanan selama empat jam di kendaraan cukup membuat kami merasa pegal dan energi pergi menghilang dari badan kami.
Pos empat tiba.
“Semuanya langsung tidur aja, biar gak kedinginan”. Semua langsung menurunkan tasnya. Aku langsung duduk dan berbaring, diatas tanah yang tidak kalah dingin dengan udara sekitar. Kami harus langsung tidur selama tubuh kami masih hangat karena  perjalanan. Tak sampai sepuluh menit, alam kembali sunyi dengan dengkuran tidur orang kecapean.
Sejam telah berlalu, rencana kami terlewat lima belas menit. Tidak langsung menunaikan salat subuh. Kami harus berjalan terlebih dahulu untuk mengusir rasa dingin yang membuat tubuhku menggigil. Jalan sebentar dan rasa dingin pun pergi. Aku dan lainnya salat subuh berjamaah dengan tayamum. Dalam kesunyian alam yang dingin, salat subuh begitu nyaman. Sujud menyentuh tanah dingin yang kelak akan menemaniku sendiri. Tetesan hangat dari mata terasa nikmat bersahaja. Begitu terasa dekat antara aku dan tuhanku. Walaupun tanah yang kusujudi miring dan tidak mendatar, tidak mengurangi kekhusyuan salat yang kami dirikan.
Salam kiri menutup salat subuh, tak lama kemudian aku dan kawanku beranjak melanjutkan pendakian. Satu langkah demi satu langkah, hembusan demi hembusan, hentakan demi hentakan, mewarnai jalan dan pendakian. Akar-akar benar-benar membentuk tangga yang rapi. Cocok membuat kami pegal dan lelah. Pohon besar menaungi kami dengan daunnya yang banyak. Sebentar berhenti, mencari pemandangan yang bisa kami dapatkan. Semua hijau oleh daun, dan coklat oleh batang. Sedikit berkabut.
Di pos lima, matahari telah benar-benar melebarkan sinarnya ke penjuru Ceremai. Kami istirahat sejenak, melahap sebagian perbekalan yang kami bawa. Mengeluarkan sebagian bawaan yang tidak diperlukan untuk naik ke puncak. Menyimpannya dengan rapi dan menutupinya. Aku dan kawanku melanjutkan dengan hanya membawa sebagian minum dan makanan.
Naik dan mulai naik. Menanjak dan terus menanjak. Akar dan tanah mulai tergantikan oleh batu besar dan sedikit pasir. Bunga keabadian edelwis mulai terlihat di ketinggian dua ribu tujuh ratus meter diatas permukaan laut. Tengok kanan dan kiri, daun-daun pohon sangat minim. Hanya batang pohon yang coklat dan terlihat rapuh, kurus. 
Edelwis
Edelwis yang Mneguning
“Edelwisnya banyak banget”. Terkesima dengan kumpulan edelwis.
“Nanti habis pos enam naik dikit, ada kebun edelwis. Kalo bulan juli agustus bunganya lagi banyak mekar”. Aku menrangkan dengan sok tau. Edelwis kini yang kami lihat, kuning bunganya. Saat dulu aku pertama kali kesini berwarna putih dan indah.
“Petik boleh gak”.
“Gak boleh!, inget!!! take nothing but picture”.
“Ada lagi selain picture, SAMPAH”.
“Ya, itu juga boleh”.
Pos enam sampai, naik sedikit. Kumpulan edelwis telah menunggu kami. Menyambut kedatangan kami. Hai the flower of eternity. Sebentar istirahat.
Lanjut, kami jalan menuju pucak yang tinggal beberapa meter lagi di depan kami. Semua batu dan batu, mendaki dan memanjat batu. Hari yang sangat cerah, tak ada awan hitam dan gelap. Langit terlihat biru. Angin dipuncak menyentuh pakaian dan menembusnya, tidak dingin, karena sang surya telah menghangatkan aku dan kawanku. Menapaki batu demi batu, tangan yang menggengam erat, tidak terasa lelah. Tujuan sudah di depan mata, dan akhirnya kaki ini menginjakan Ceremai untuk yang kedua kalinya. 
“WOOOOO.... PUNCAAAAAAAAAAAAAAKkk”. Teriakan yang menggelegar, membuang rasa lelah dan cape saat perjalanan.
“HUH...”.
“Akhirnya kita sampai puncak, alhamdulillah”.
“Kibarin benderanya”. Ulum mengeluarkan bendera berwarna hijau, dengan lambang Foranza ditengahnya yang berwarna putih. Kami kibarkan, bendera yang Ulum buat sendiri. Tertiup angin.
Kibarin Benderanya
“Huh, kita berhasil. Mengisi liburan yang Cuma tiga hari, dipake buat naik Ceremai”.
Semua senang, aku memandangi sekelilingku, langit, puncak gunung lain, awan. Melihat ke bawah terlihat kumpulan awan. Membentuk seperti ombak di lautan. Langit biru, hawa yang tenang. Angin yang dingin. 
Kami bertemu dengan pendaki lain, berasal dari salah satu universitas. 
Kawah Ceremai yang bersahabat. Sedikit mengeluarkan asap belerang. Luas dan cekung membentuk mangkuk. Namun jika aku meloncat ke dalamnya akan celakalah aku. Kami makan dan membuka perbekalan kami. Tidak lupa kacang yang akan menemani obrolan kami di puncak tertinggi di jawa barat ini. Tiga ribu tujuh puluh delapan meter diatas permukaan laut. Mengambil gambar dan foto sebagai saksi bisu dan kenangan abadi.
Kawah Ciremai

Jaket Foranza
“Habis ini foranza ajak semua ke sini”.
“Memangnya mau semua dan kuat???”.
Setelah puas ngacang, dan berfoto dengan gaya masing-masing, kami kembali turun ke bawah. Dengan sedikit berlari, melewati jalan-jalan yang kami lalui saat malam hari. Kini lebih terlihat jelas, jalan-jalan itu. Yang telah membuat kami kelelahan. Kini hanya terus menurun, dan lebih cepat dan mudah dan tidak terlalu capek. Di perjalanan kami menemui pendaki lain. 
“Misi, pos berikutnya masih jauh ga?”. Pertanyaan yang sering ditanyakan dengan wajah yang kecapean, keringat mengucur membasahi kaos. Nafas yang tersengal-sengal. Dengan badan yang tidak bisa disebut kurus.
        “Sekitar setengah jam lagi”. Aku jawab mengira-ngira. Namun, ternyata saat mereka telah jauh kutinggalkan, aku baru ingat bahwa setengah jam adalah waktu aku turun ke bawah menuruni gunung ini.
Empat Sekawan
Retas
Me

Ulum
Rowi
Continue reading →

Labels