Minggu, Agustus 10

For Foranza

0 komentar
“...untuk memperingati tahun baru Hiijriyah selama empat hari yang tanggalnya merah, kalian Libur, dan kalian boleh pulang kerumah...”. Sontak seisi mesjid ramai bersorak tertahan mendengar pengumuman yang disampaikan kepala sekolah. Sejenak setelah pengumuman, para siswa otomatis membentuk lingkaran masing-masing dengan sahabat mereka. Aku beranjak menuju serambi kiri mesjid, Ulum memanggil dan mengajakku.
“Jalan-jalan yuk”. Ulum mengajakku untuk liburan bersama. Secara sadar aku menjawab
“Ceremai!, oke deh,  gua bilang ortu dulu”. 
***
“Galang juga langsung ngerti Tas”. 
“Yaudah deh, kita langsung siapin aja”.
“Tapi jangan bilang-bilang siapa dulu, tar kalo ga jadi bisa memalukan”. Langsung kami menyusun strategi untuk menuju gunung tertinggi di  Jawa Barat. Bagiku ini akan menjadi perjalanan kedua kalinya. 
Di kamar salah satu gedung F, Retas menuliskan apa yang harus dibawa, jadwal dan apa yang harus dilakukan pada tanggal enam belas sampai kami kembali pada tanggal delapan belas November pada kampus Insan cendekia ORI.
Wajah serius, sedikit tawa dan diam-diam mewarnai rencana ini. Jadi beginilah rencananya. Kami akan meninggalkan MANICS sebelum salat jumat, pergi keluar dan menuju Minimarket terdekat untuk memesan tiket kereta menuju Cirebon, atau langsung ke Tanah Abang dan membeli peralatan. Lalu, pergi kerumahku yang ada di Majalengka sebelum malam tiba. Beristirahat sejenak lalu pada sore hari pergi menuju Desa Apuy, desa terakhir sebelum kami muncak. Aku kabarkan rencanaku itu pada kedua Ortuku. Awalnya mereka tak mengizinkanku, dengan lobi yang pas dan gaya seorang anak meminta pada Ortunya akhirnya aku diizinkan oleh mereka. Terimakasih ayah dan ibu tercinta. Namun dengan syarat ditemani oleh teman ayahku yang pernah menemaniku pergi muncak ke Ceremai yang pertama.  Ternyata eh ternyata, teman ayahku itu tidak bisa menemani, maka ayahku menyarankan porter untuk menemani kami menuju puncak Ceremai.
“Gak usah aja Gal, insya allah kita bisa kok”. Aku sampaikan perkataan itu pada kedua orang tuaku, dengan berat hati mereka mengizinkanku. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi.
Beberapa hari lagi kepulangan akan datang. Tiba-tiba ada kabar bahwa ketua angkatan cowo Foranza akan ikut serta dalam perjalanan ini. Rowi namanya. Sebelumnya dia memang mengajakku pergi ke gunung setelah Ulum memberitahuku, aku manggut saja dan sekarang dia fix akan ikut serta. Oke deh.
“Gua gak enakan sama yang lain, masa yang lain gak diajak”.
“Nanti aja deh, sekarang kan liburannya mepet, lagian yang lain juga udah punya rencan sendiri-sendiri”.
“Jaket, tas, senter, sarung tangan, kupluk...”. Kami mengeja peralatan yang disiapkan disini. Lalu yang kurang kami akan penuhi di tanah abang.
***
Pagi sebelum jam sepuluh, kami telah keluar kampus. Melangkahi ketentuan yang seharusnya setelah salat jumat. Ini harus dilakukan agar kami bisa mencapai tempat tujuan lebih cepat. 
Ke Minimarket terdekat, memesan tiket. 
“Ayo dek cepetan kalo mau mesen tiket”. Kasir memburui kami untuk cepat memberikan identitas. Kasir langsung mengetik apa yang kami sampaikan.
“Yaaaah, udah dipesan duluan sama Minimarket lain, maaf dek tiketnya habis”. Tiba-tiba sang kasir kecewa. Kamipun ikut kecewa.
“Kalo mau yang hari ini berangkatnya harus mesen langsung di stasiunnya”.
“Oh gitu ya mba, kalo yang ke sini dan tanggal ini ada ga....”. Retas membeli tiket lain untuk teman yang akan pulang di liburan semester satu. Banyak diantara teman-teman IC yang rumahnya di Jateng jauh dari BSD. Sehingga mereka menitipkan tiket menuju Kampungnya pada kami.
Dengan perasaan nekad harus sampai ke Majalengka, kami melanjutkan langsung ke tanah abang. Di Tanah Abang tiket untuk menuju Cirebon sudah habis, kata informan yang ada disana untuk jam satu siang. Kami berusaha mencari lagi untuk hari ini. Orang bilang kalo mau pesen tiket kereta ekonomi harus jauh-jauh hari. Sayang seribu sayang kami baru mengetahuinya.
Kami berusaha mencari tiket kereta menuju Cirebon. Ada!!! Tapi kereta eksekutif dan Mahal.Tapi ternyata masih Ada!!! Kereta Ekonomi berangkat pada pukul empat sore. Berarti akan menghapuskan rencana kami untuk bisa melihat sunrise di puncak.
“Berangkat jam empat nyampe jam setengah delapanan”.
“Yaudah, ga apa-apa deh”. Kami menerimanya, jikalau kami memakai bis, kami harus ke bekasi dulu dan akan memberi waktu lebih lama menuju Majalengka yang memakan sampai enam jam perjalanan.
Berempat kami berbelanja barang-barang yang diperlukan. Adzan jumat berkumandang. Kami akan salat jumat dahulu. Meleset, lalu Kami salat seperti biasa. Makan siang dan memenuhi perlatan yang diperlukan. Ceremai, kami datang.
Naik kereta pukul empat lebih, kebiasaan Indonesia. Rowi kami suruh untuk tidur di kereta, karena sebelumnya dia terlalu asik pada malam kemarin. Tiba di Cirebon pada pukul delapan malam lebih. Di stasiun Prujakan Ortuku telah menunggu, menjemput kami semua. Mereka memberiku kupluk bagus untukku keatas muncak. Kami pun pulang ke Majalengka selama sejam, makan di rumah makan langgananku saat aku pulang dari sekolah SMP ku yang berasrama.
Belanja di Tanah abang
Tiba dirumah, Majalengka. Ternyata ibu telah mempersiapkan semuanya, parafin, air minum, obat-obatan, nasi dan lauknya, nesting, dan semua yang diperlukan. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi. Retas, Ulum, Rowi dan aku beristirahat, mandi serta salat dan bersiap-siap sekali lagi.
Kami berangkat menuju desa Apuy. Ayah telah memesan mobil untuk kami menuju basecamp. Ternyata misskomunikasi. Sang sopir mengira kami akan berangkat besok pagi jam sepuluh. Tapi kami berencana jam sepuluh malam. Sedikit berdebat. Ayah memintaku untuk berangkat besok saja.
“Gak bisa yah, harus malam ini”. Aku sedikit membentaknya.
 Akhirnya kami membatalkan mobil pesanan yang telah membuat kami menunggu lama. Kami berangkat sendiri. Ayah tak tahu jalan, dan hampir tersesat. Sopir mobil tadi ternyata membuntuti kami, lalu mengarahkan kami menuju basecamp yang sebenarnya. Urusan pertama selesai. Mobil kuda yang ditumpangi kepanasan.
Di basecamp kami mendaftar dan menuliskan di buku tamu dengan “Foranza Sillnova”. Dari basecamp aku berpisah dengan ayah dan kakaku meminta didoakan agar selamat. Setelah itu Retas, Ulum, Rowi dan aku  menuju tempat start pendakian memakai mobil yang membantu kami tadi. 
“Seperti biasa sebelum para pendaki berangkat...kita datang disini untuk mengagumi alam yang diciptakan sang Pencipta, menyadari bahwa kita itu kecil dibandingkan dengan ciptaanNya dan kuasaNya...”. Retas memuqodimahi kami sebelum berangkat. Lalu memanjatkan doa dengan khusyu ditemani oleh angin malam dan kesunyiannya. Pemanasan agar labih enak, dan tos bersama “We R One –For Foranza- We R Here –For Foranza- Foranza –Sillnova-”. Menggema membuyarkan kesunyian yang menetap.
“Bismillahirahmanirahim, kita berangkat”. Jam satu malam kurang, dengan langkah yang pasti kami berjalan menyusuri jalan-jalan yang telah ada dan terbentuk setapak. Alang-alang menyambut kami dengan belaian mereka yang kasar menyentuh kulit. Membuat kami harus berhati-hati kalau-kalau belaian mereka terlalu kasar dan akan melukai.
Jalur yang kami lewati, aku sadari pernah aku datangi. Perjalanan kami terasa lama menuju pos satu. Aku cepat mengharapkan pos satu, satu-satunya pos yang aku datangi dulu yang memiliki atap dan tempat berteduh alias saung. Rencananya di pos itu aku akan melapisi pakaianku agar lebih hangat. Retas dan Rowi, tak nyaman dengan alas mereka yang memakai sendal biasa. Sehinggga mereka berdua mendesain sandalanya agar nyaman dipakai. Namun ternyata sendal Retas tak begitu nyaman dipakai, dia mencopot sendalnya dan tidak beralas kaki. Itu lebih nyaman baginya. Naik naik dan turun kami lewati, tanah yang basah membuat kaki-kaki mudah untuk kedinginan. Embun yang menempel di rumput mendukung tanah coklat untuk mendingini kaki-kaki kami-kami.
Akhirnya kami tiba di tempat saung seperti dulu di pos satu saat aku pertama kali mendaki Ceremai. Kami menaiki tiga anak tangga, lalu duduk di saung itu. Ngaso sebentar.
“Kita istirahat dulu sebentar disini”.
“Baru segini doang kok udah capek ya”. 
“Gara-gara dari Serpong langsung naek sih, di kereta juga lama”.
Kami membuka sebagian biskuit yang kami bawa, memakannya bersama. Hawa dingin terkalahkan oleh hangatnya persahabatan diantara anak manusia. Malam ini sepi, tak ada pendaki lain yang kami temui. Sunyi, di buku tamu saat di basecamp hanya ada satu dua rombongan yang berangkat selain kami. 
Melanjutkan perjalanan dengan lebih pasti. Aku mencari arah untuk melanjutkan perjalanan. Seingatku setelah pos satu ada petunjuk arah yang menempel di pohon menunjukan jalur selanjutnya yang harus kami tempuh. Aku cari-cari ternyata tidak ada. Mungkin sudah dicopot oleh yang lain. Kami meneruskan jalur setapak yang kami ikuti sejak awal. Harapku pada pos dua telah di depan mata.
Setelah beberapa lama.
“Tas, ada sarang laba-laba kena gue deh”. Rowi yang memimpin di depan mengabari hal yang janggal itu.
“Kok ada ya? Seharusnyakan gak ada, dua rombongan udah duluan berangkat sebelum kita”. Aku bertanya-tanya.
“Emang banyak kok Wi, gua juga kena terus dari tadi sebelum pos satu nih”. Ulum menimpali.
“Yaudah deh lanjutin aja dulu”. Akhirnya kami banyak menerobos sarang laba-laba yang menempel di kanan kiri samping kami. Terus melangkah, mengikuti jalan setapak yang memiliki semen buatan manusia.
“Sebentar!!! ada sarang laba-laba lagi  halangi jalan”. Sarang itu tersambung menjembatani dua daun yang terpisahkan oleh jalan setapak. Masih rapih, dan tidak terlihat sedikitpun cacat mewarnai sarang itu. Mungkin rombongan yang lewat sini jalannya menunduk dan tidak merusak.
Sarang Laba-laba yang ditengah jalan
“Gimana nih Tas? Kita lanjutin ga, kayaknya gak ada orang yang lewat sini sebelumnya”. Aku khawatir.
“Tau ni Gal, allah mengizinkan kita apa engga mendaki gunung in?”. Semua terdiam sejenak, berpikir dalam otaknya masing-masing. Mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
“Mmmmm... kita lanjutin dulu dan terobos sarangnya. Mungkin didepan kita gak ketemu lagi”. Rowi langsung menerobos sarang laba-laba yang menghalangi jalan kami.
“Maaf ya laba-laba”. Rowi menyingkirkan dengan perlahan sarang yang telah dibangun laba-laba itu.
“Mungkin laba-laba buat sarangnya cepet banget kali Cuma semalem kurang”.
Terus jalan, ditengah dinginnya hawa Ceremai yang terkalahkan oleh hangatnya keringat-keringat yang keluar dari pori-pori. Keringat yang telah keluar akan terasa dingin. Aku  rasa kostumku yang telah berlapis itu salah. Menghambat perjalananku karena kepanasan. Melewati pertigaan yang tidak aku sadari keberadaannya.
Ditengah perjalanan kami menemui  kembali sarang laba-laba yang lain. Lebih rapih dan menutup jalan. Dari atas sampai bawah. Tidak mungkin orang bisa menunduk melewatinya, karena pasti akan mengenai sarang laba-laba itu.
“Gimana ni?”.
“Kita balik lagi aja, cek pertigaan yang kita lewati tadi”. Dipertigaan itu terlihat tanda panah. Menuju puncak dan menuju apuy. Kami mencoba ke jalan yang lain. Ternyata jalannya menurun. Lebih tertutup oleh semak-semak dan dahan pohon. Kami ragu itu jalan yang benar. Kami bolak balik dengan ragu.
“Bismillahirahmanirahim aja deh, kita lewatin sarang laba-laba tadi”.
“Oke deh, maaf lagi ya laba-laba”. Kami melanjutkan perjalanan. Bercakap-cakap tentang perjalan ini. Terkadang bercanda membicarakan kisah orang yang diputar-putar perjalanannya sehingga tak mencapai tujuan. Tiba-tiba...
“Loh kok ada saung lagi? Pos satu lagi ya?”. Aku sedikit terkejut. Melihat dan memperhatikan ternyata sama. Ada saungnya, persis seperti waktu aku mendatangi pos satu saat pertama kali.
“Beneran lo Lum?...Gal, Cuma pos satu yang ada saungnya kan?”. Retas bertanya padaku yang lebih tau kondisi.
“Iya jeh, pas pertama kali ke Ceremai, gua Cuma nemuin satu saung doang”. Kawan yang lain deg-degan. Khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami terus mendatangi saung itu, mendekat dan terus mendekat. Mencoba menentang perasaan khawatir kami.
“Eh, tapi ini bukan saung yang tadi deh, soalnya gak ada tangganya”. Beberapa meter sebelum sampai saung, Ulum mengabarkan situasi yang terjadi.
“Oiya, emang beda”. Aku perhatikan lagi dengan seksama. Ternyata inilah pos satu yang sebenarnya. Ada bacaan pos satu. Saung tadi bukan pos satu. Ternyata ketika aku pertama kali ke Ceremai aku melewati jalan yang berbeda dari kali ini. Sial, malam menghalangiku untuk mengingat-ingat.
“Langsung evaluasi, apa aja kesalahan kita kemarin, biar gak ada beban”. Serempak berempat duduk disaung itu, saung yang sangat mirip dari saung sebelumnya, dengan semen menopang empat tiang kayu. Saung itu cukup diduduki oleh dua puluhan orang. Tidak lesehan, tapi duduk.
“Kayaknya gak ngajak-ngajak yang lain jadi karma”.
“Bisa jadi, kirim sms Tas ke anak-anak. Minta maaf dan doa”. Handphone yang kami harap ada sinyalnya kami coba manfaatkan. Retas ketik kalimat yang panjang dan penuh pengharapan  mendapatkan maaf dari teman-teman kami yang kami rasa telah kami lukai. Meminta doa mereka.
“kirim ke siapa nih...”.
“Ke anak-anak yang suka OL malem-malem”.
“Ok deh...”. Kami mencoba mengirim, namun belum ada laporan delivered. Kami bernafas, beristirahat, mengingat kesalahan kami tadi siang, tadi pagi, tadi sore. Oh ya, aku sempat membentak ayahku sebelum berangkat, astaghfirullah. Ada yang lupa ini dan itu, uang kembalian yang salah, dan yang paling kami sesali, menyembunyikan rencana perjalanan ini pada teman-teman kami yang telah dua tahun hidup bersama berasrama, telat salat. Oh banyak ya.
Perjalanan kami lanjutkan. Trek pos satu ke pos dua adalah yang paling berat. Terus menanjak dengan tanah dan akar membentuk tangga-tangga yang cukup tinggi. Mudah membuat kami merasa capek dan pegal dengan harus mengangkat tubuh kami lebih tinggi dari biasanya. Ilalang-ilalang mulai tergantikan oleh pohon-pohon tinggi yang tua. Tak ada pemandangan karena gelap. Kami di dalam hutan hujan daerah tropis Indonesia. Hanya berempat melewati tengah-tengah hutan belantara ini.
Pos dua kami lewati. Tenaga yang mulai hilang, rasa lelah yang sangt terasa. Fajar sudah hampir terbit. Rencana melihat sunrise benar-benar pudar. Tak mungkin kami menuju pos tujuh pos terakhhir di puncak dalam waktu dua jam, dengan kondisi yang kecapean dari perjalanan Serpong ke Majalengka. 
“Istirahat sebentar, habis itu pos tiga kita makan mie dulu, di pos empat kita tidur empat puluh lima menit terus salat subuh”.
Langsung kami menuju pos tiga, perjalanan yang sedikit lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Perjalanan yang lebih pendek dan sebentar dari sebelumnya. Lampu senter menerangi jalan setapak yang dilewati. Bintang mengiringi jalan menuju puncak Ceremai, angin dingin nan sepoi-sepoi tak mau kalah menemani kami hingga puncak nanti. Sampailah kami di pos tiga dengan selamat. Langsung saja semua menurunkan tas yang dibawanya, membuka tas dan mengambil mie yang telah dibawa. Ada nasi timbel juga yang telah ibu persiapkan untuk ini semua. Kami memasak mie ala kami dan sedikit nmemberi kami energi baru.
Masak Mie
Retas berjalan sedikit perlahan, mencoba berjalan dengan tanpa alas. Nyaman, namun harus hati-hati karena tanah yang keras dan licin. Perjalanan menuju pos empat, energi sudah terisi namun pegal-pegal di kaki masih terasa. Jalan-jalan kami di tanah abang, dan perjalanan selama empat jam di kendaraan cukup membuat kami merasa pegal dan energi pergi menghilang dari badan kami.
Pos empat tiba.
“Semuanya langsung tidur aja, biar gak kedinginan”. Semua langsung menurunkan tasnya. Aku langsung duduk dan berbaring, diatas tanah yang tidak kalah dingin dengan udara sekitar. Kami harus langsung tidur selama tubuh kami masih hangat karena  perjalanan. Tak sampai sepuluh menit, alam kembali sunyi dengan dengkuran tidur orang kecapean.
Sejam telah berlalu, rencana kami terlewat lima belas menit. Tidak langsung menunaikan salat subuh. Kami harus berjalan terlebih dahulu untuk mengusir rasa dingin yang membuat tubuhku menggigil. Jalan sebentar dan rasa dingin pun pergi. Aku dan lainnya salat subuh berjamaah dengan tayamum. Dalam kesunyian alam yang dingin, salat subuh begitu nyaman. Sujud menyentuh tanah dingin yang kelak akan menemaniku sendiri. Tetesan hangat dari mata terasa nikmat bersahaja. Begitu terasa dekat antara aku dan tuhanku. Walaupun tanah yang kusujudi miring dan tidak mendatar, tidak mengurangi kekhusyuan salat yang kami dirikan.
Salam kiri menutup salat subuh, tak lama kemudian aku dan kawanku beranjak melanjutkan pendakian. Satu langkah demi satu langkah, hembusan demi hembusan, hentakan demi hentakan, mewarnai jalan dan pendakian. Akar-akar benar-benar membentuk tangga yang rapi. Cocok membuat kami pegal dan lelah. Pohon besar menaungi kami dengan daunnya yang banyak. Sebentar berhenti, mencari pemandangan yang bisa kami dapatkan. Semua hijau oleh daun, dan coklat oleh batang. Sedikit berkabut.
Di pos lima, matahari telah benar-benar melebarkan sinarnya ke penjuru Ceremai. Kami istirahat sejenak, melahap sebagian perbekalan yang kami bawa. Mengeluarkan sebagian bawaan yang tidak diperlukan untuk naik ke puncak. Menyimpannya dengan rapi dan menutupinya. Aku dan kawanku melanjutkan dengan hanya membawa sebagian minum dan makanan.
Naik dan mulai naik. Menanjak dan terus menanjak. Akar dan tanah mulai tergantikan oleh batu besar dan sedikit pasir. Bunga keabadian edelwis mulai terlihat di ketinggian dua ribu tujuh ratus meter diatas permukaan laut. Tengok kanan dan kiri, daun-daun pohon sangat minim. Hanya batang pohon yang coklat dan terlihat rapuh, kurus. 
Edelwis
Edelwis yang Mneguning
“Edelwisnya banyak banget”. Terkesima dengan kumpulan edelwis.
“Nanti habis pos enam naik dikit, ada kebun edelwis. Kalo bulan juli agustus bunganya lagi banyak mekar”. Aku menrangkan dengan sok tau. Edelwis kini yang kami lihat, kuning bunganya. Saat dulu aku pertama kali kesini berwarna putih dan indah.
“Petik boleh gak”.
“Gak boleh!, inget!!! take nothing but picture”.
“Ada lagi selain picture, SAMPAH”.
“Ya, itu juga boleh”.
Pos enam sampai, naik sedikit. Kumpulan edelwis telah menunggu kami. Menyambut kedatangan kami. Hai the flower of eternity. Sebentar istirahat.
Lanjut, kami jalan menuju pucak yang tinggal beberapa meter lagi di depan kami. Semua batu dan batu, mendaki dan memanjat batu. Hari yang sangat cerah, tak ada awan hitam dan gelap. Langit terlihat biru. Angin dipuncak menyentuh pakaian dan menembusnya, tidak dingin, karena sang surya telah menghangatkan aku dan kawanku. Menapaki batu demi batu, tangan yang menggengam erat, tidak terasa lelah. Tujuan sudah di depan mata, dan akhirnya kaki ini menginjakan Ceremai untuk yang kedua kalinya. 
“WOOOOO.... PUNCAAAAAAAAAAAAAAKkk”. Teriakan yang menggelegar, membuang rasa lelah dan cape saat perjalanan.
“HUH...”.
“Akhirnya kita sampai puncak, alhamdulillah”.
“Kibarin benderanya”. Ulum mengeluarkan bendera berwarna hijau, dengan lambang Foranza ditengahnya yang berwarna putih. Kami kibarkan, bendera yang Ulum buat sendiri. Tertiup angin.
Kibarin Benderanya
“Huh, kita berhasil. Mengisi liburan yang Cuma tiga hari, dipake buat naik Ceremai”.
Semua senang, aku memandangi sekelilingku, langit, puncak gunung lain, awan. Melihat ke bawah terlihat kumpulan awan. Membentuk seperti ombak di lautan. Langit biru, hawa yang tenang. Angin yang dingin. 
Kami bertemu dengan pendaki lain, berasal dari salah satu universitas. 
Kawah Ceremai yang bersahabat. Sedikit mengeluarkan asap belerang. Luas dan cekung membentuk mangkuk. Namun jika aku meloncat ke dalamnya akan celakalah aku. Kami makan dan membuka perbekalan kami. Tidak lupa kacang yang akan menemani obrolan kami di puncak tertinggi di jawa barat ini. Tiga ribu tujuh puluh delapan meter diatas permukaan laut. Mengambil gambar dan foto sebagai saksi bisu dan kenangan abadi.
Kawah Ciremai

Jaket Foranza
“Habis ini foranza ajak semua ke sini”.
“Memangnya mau semua dan kuat???”.
Setelah puas ngacang, dan berfoto dengan gaya masing-masing, kami kembali turun ke bawah. Dengan sedikit berlari, melewati jalan-jalan yang kami lalui saat malam hari. Kini lebih terlihat jelas, jalan-jalan itu. Yang telah membuat kami kelelahan. Kini hanya terus menurun, dan lebih cepat dan mudah dan tidak terlalu capek. Di perjalanan kami menemui pendaki lain. 
“Misi, pos berikutnya masih jauh ga?”. Pertanyaan yang sering ditanyakan dengan wajah yang kecapean, keringat mengucur membasahi kaos. Nafas yang tersengal-sengal. Dengan badan yang tidak bisa disebut kurus.
        “Sekitar setengah jam lagi”. Aku jawab mengira-ngira. Namun, ternyata saat mereka telah jauh kutinggalkan, aku baru ingat bahwa setengah jam adalah waktu aku turun ke bawah menuruni gunung ini.
Empat Sekawan
Retas
Me

Ulum
Rowi