Minggu, Agustus 10

For Foranza

0 komentar
“...untuk memperingati tahun baru Hiijriyah selama empat hari yang tanggalnya merah, kalian Libur, dan kalian boleh pulang kerumah...”. Sontak seisi mesjid ramai bersorak tertahan mendengar pengumuman yang disampaikan kepala sekolah. Sejenak setelah pengumuman, para siswa otomatis membentuk lingkaran masing-masing dengan sahabat mereka. Aku beranjak menuju serambi kiri mesjid, Ulum memanggil dan mengajakku.
“Jalan-jalan yuk”. Ulum mengajakku untuk liburan bersama. Secara sadar aku menjawab
“Ceremai!, oke deh,  gua bilang ortu dulu”. 
***
“Galang juga langsung ngerti Tas”. 
“Yaudah deh, kita langsung siapin aja”.
“Tapi jangan bilang-bilang siapa dulu, tar kalo ga jadi bisa memalukan”. Langsung kami menyusun strategi untuk menuju gunung tertinggi di  Jawa Barat. Bagiku ini akan menjadi perjalanan kedua kalinya. 
Di kamar salah satu gedung F, Retas menuliskan apa yang harus dibawa, jadwal dan apa yang harus dilakukan pada tanggal enam belas sampai kami kembali pada tanggal delapan belas November pada kampus Insan cendekia ORI.
Wajah serius, sedikit tawa dan diam-diam mewarnai rencana ini. Jadi beginilah rencananya. Kami akan meninggalkan MANICS sebelum salat jumat, pergi keluar dan menuju Minimarket terdekat untuk memesan tiket kereta menuju Cirebon, atau langsung ke Tanah Abang dan membeli peralatan. Lalu, pergi kerumahku yang ada di Majalengka sebelum malam tiba. Beristirahat sejenak lalu pada sore hari pergi menuju Desa Apuy, desa terakhir sebelum kami muncak. Aku kabarkan rencanaku itu pada kedua Ortuku. Awalnya mereka tak mengizinkanku, dengan lobi yang pas dan gaya seorang anak meminta pada Ortunya akhirnya aku diizinkan oleh mereka. Terimakasih ayah dan ibu tercinta. Namun dengan syarat ditemani oleh teman ayahku yang pernah menemaniku pergi muncak ke Ceremai yang pertama.  Ternyata eh ternyata, teman ayahku itu tidak bisa menemani, maka ayahku menyarankan porter untuk menemani kami menuju puncak Ceremai.
“Gak usah aja Gal, insya allah kita bisa kok”. Aku sampaikan perkataan itu pada kedua orang tuaku, dengan berat hati mereka mengizinkanku. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi.
Beberapa hari lagi kepulangan akan datang. Tiba-tiba ada kabar bahwa ketua angkatan cowo Foranza akan ikut serta dalam perjalanan ini. Rowi namanya. Sebelumnya dia memang mengajakku pergi ke gunung setelah Ulum memberitahuku, aku manggut saja dan sekarang dia fix akan ikut serta. Oke deh.
“Gua gak enakan sama yang lain, masa yang lain gak diajak”.
“Nanti aja deh, sekarang kan liburannya mepet, lagian yang lain juga udah punya rencan sendiri-sendiri”.
“Jaket, tas, senter, sarung tangan, kupluk...”. Kami mengeja peralatan yang disiapkan disini. Lalu yang kurang kami akan penuhi di tanah abang.
***
Pagi sebelum jam sepuluh, kami telah keluar kampus. Melangkahi ketentuan yang seharusnya setelah salat jumat. Ini harus dilakukan agar kami bisa mencapai tempat tujuan lebih cepat. 
Ke Minimarket terdekat, memesan tiket. 
“Ayo dek cepetan kalo mau mesen tiket”. Kasir memburui kami untuk cepat memberikan identitas. Kasir langsung mengetik apa yang kami sampaikan.
“Yaaaah, udah dipesan duluan sama Minimarket lain, maaf dek tiketnya habis”. Tiba-tiba sang kasir kecewa. Kamipun ikut kecewa.
“Kalo mau yang hari ini berangkatnya harus mesen langsung di stasiunnya”.
“Oh gitu ya mba, kalo yang ke sini dan tanggal ini ada ga....”. Retas membeli tiket lain untuk teman yang akan pulang di liburan semester satu. Banyak diantara teman-teman IC yang rumahnya di Jateng jauh dari BSD. Sehingga mereka menitipkan tiket menuju Kampungnya pada kami.
Dengan perasaan nekad harus sampai ke Majalengka, kami melanjutkan langsung ke tanah abang. Di Tanah Abang tiket untuk menuju Cirebon sudah habis, kata informan yang ada disana untuk jam satu siang. Kami berusaha mencari lagi untuk hari ini. Orang bilang kalo mau pesen tiket kereta ekonomi harus jauh-jauh hari. Sayang seribu sayang kami baru mengetahuinya.
Kami berusaha mencari tiket kereta menuju Cirebon. Ada!!! Tapi kereta eksekutif dan Mahal.Tapi ternyata masih Ada!!! Kereta Ekonomi berangkat pada pukul empat sore. Berarti akan menghapuskan rencana kami untuk bisa melihat sunrise di puncak.
“Berangkat jam empat nyampe jam setengah delapanan”.
“Yaudah, ga apa-apa deh”. Kami menerimanya, jikalau kami memakai bis, kami harus ke bekasi dulu dan akan memberi waktu lebih lama menuju Majalengka yang memakan sampai enam jam perjalanan.
Berempat kami berbelanja barang-barang yang diperlukan. Adzan jumat berkumandang. Kami akan salat jumat dahulu. Meleset, lalu Kami salat seperti biasa. Makan siang dan memenuhi perlatan yang diperlukan. Ceremai, kami datang.
Naik kereta pukul empat lebih, kebiasaan Indonesia. Rowi kami suruh untuk tidur di kereta, karena sebelumnya dia terlalu asik pada malam kemarin. Tiba di Cirebon pada pukul delapan malam lebih. Di stasiun Prujakan Ortuku telah menunggu, menjemput kami semua. Mereka memberiku kupluk bagus untukku keatas muncak. Kami pun pulang ke Majalengka selama sejam, makan di rumah makan langgananku saat aku pulang dari sekolah SMP ku yang berasrama.
Belanja di Tanah abang
Tiba dirumah, Majalengka. Ternyata ibu telah mempersiapkan semuanya, parafin, air minum, obat-obatan, nasi dan lauknya, nesting, dan semua yang diperlukan. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi. Retas, Ulum, Rowi dan aku beristirahat, mandi serta salat dan bersiap-siap sekali lagi.
Kami berangkat menuju desa Apuy. Ayah telah memesan mobil untuk kami menuju basecamp. Ternyata misskomunikasi. Sang sopir mengira kami akan berangkat besok pagi jam sepuluh. Tapi kami berencana jam sepuluh malam. Sedikit berdebat. Ayah memintaku untuk berangkat besok saja.
“Gak bisa yah, harus malam ini”. Aku sedikit membentaknya.
 Akhirnya kami membatalkan mobil pesanan yang telah membuat kami menunggu lama. Kami berangkat sendiri. Ayah tak tahu jalan, dan hampir tersesat. Sopir mobil tadi ternyata membuntuti kami, lalu mengarahkan kami menuju basecamp yang sebenarnya. Urusan pertama selesai. Mobil kuda yang ditumpangi kepanasan.
Di basecamp kami mendaftar dan menuliskan di buku tamu dengan “Foranza Sillnova”. Dari basecamp aku berpisah dengan ayah dan kakaku meminta didoakan agar selamat. Setelah itu Retas, Ulum, Rowi dan aku  menuju tempat start pendakian memakai mobil yang membantu kami tadi. 
“Seperti biasa sebelum para pendaki berangkat...kita datang disini untuk mengagumi alam yang diciptakan sang Pencipta, menyadari bahwa kita itu kecil dibandingkan dengan ciptaanNya dan kuasaNya...”. Retas memuqodimahi kami sebelum berangkat. Lalu memanjatkan doa dengan khusyu ditemani oleh angin malam dan kesunyiannya. Pemanasan agar labih enak, dan tos bersama “We R One –For Foranza- We R Here –For Foranza- Foranza –Sillnova-”. Menggema membuyarkan kesunyian yang menetap.
“Bismillahirahmanirahim, kita berangkat”. Jam satu malam kurang, dengan langkah yang pasti kami berjalan menyusuri jalan-jalan yang telah ada dan terbentuk setapak. Alang-alang menyambut kami dengan belaian mereka yang kasar menyentuh kulit. Membuat kami harus berhati-hati kalau-kalau belaian mereka terlalu kasar dan akan melukai.
Jalur yang kami lewati, aku sadari pernah aku datangi. Perjalanan kami terasa lama menuju pos satu. Aku cepat mengharapkan pos satu, satu-satunya pos yang aku datangi dulu yang memiliki atap dan tempat berteduh alias saung. Rencananya di pos itu aku akan melapisi pakaianku agar lebih hangat. Retas dan Rowi, tak nyaman dengan alas mereka yang memakai sendal biasa. Sehinggga mereka berdua mendesain sandalanya agar nyaman dipakai. Namun ternyata sendal Retas tak begitu nyaman dipakai, dia mencopot sendalnya dan tidak beralas kaki. Itu lebih nyaman baginya. Naik naik dan turun kami lewati, tanah yang basah membuat kaki-kaki mudah untuk kedinginan. Embun yang menempel di rumput mendukung tanah coklat untuk mendingini kaki-kaki kami-kami.
Akhirnya kami tiba di tempat saung seperti dulu di pos satu saat aku pertama kali mendaki Ceremai. Kami menaiki tiga anak tangga, lalu duduk di saung itu. Ngaso sebentar.
“Kita istirahat dulu sebentar disini”.
“Baru segini doang kok udah capek ya”. 
“Gara-gara dari Serpong langsung naek sih, di kereta juga lama”.
Kami membuka sebagian biskuit yang kami bawa, memakannya bersama. Hawa dingin terkalahkan oleh hangatnya persahabatan diantara anak manusia. Malam ini sepi, tak ada pendaki lain yang kami temui. Sunyi, di buku tamu saat di basecamp hanya ada satu dua rombongan yang berangkat selain kami. 
Melanjutkan perjalanan dengan lebih pasti. Aku mencari arah untuk melanjutkan perjalanan. Seingatku setelah pos satu ada petunjuk arah yang menempel di pohon menunjukan jalur selanjutnya yang harus kami tempuh. Aku cari-cari ternyata tidak ada. Mungkin sudah dicopot oleh yang lain. Kami meneruskan jalur setapak yang kami ikuti sejak awal. Harapku pada pos dua telah di depan mata.
Setelah beberapa lama.
“Tas, ada sarang laba-laba kena gue deh”. Rowi yang memimpin di depan mengabari hal yang janggal itu.
“Kok ada ya? Seharusnyakan gak ada, dua rombongan udah duluan berangkat sebelum kita”. Aku bertanya-tanya.
“Emang banyak kok Wi, gua juga kena terus dari tadi sebelum pos satu nih”. Ulum menimpali.
“Yaudah deh lanjutin aja dulu”. Akhirnya kami banyak menerobos sarang laba-laba yang menempel di kanan kiri samping kami. Terus melangkah, mengikuti jalan setapak yang memiliki semen buatan manusia.
“Sebentar!!! ada sarang laba-laba lagi  halangi jalan”. Sarang itu tersambung menjembatani dua daun yang terpisahkan oleh jalan setapak. Masih rapih, dan tidak terlihat sedikitpun cacat mewarnai sarang itu. Mungkin rombongan yang lewat sini jalannya menunduk dan tidak merusak.
Sarang Laba-laba yang ditengah jalan
“Gimana nih Tas? Kita lanjutin ga, kayaknya gak ada orang yang lewat sini sebelumnya”. Aku khawatir.
“Tau ni Gal, allah mengizinkan kita apa engga mendaki gunung in?”. Semua terdiam sejenak, berpikir dalam otaknya masing-masing. Mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
“Mmmmm... kita lanjutin dulu dan terobos sarangnya. Mungkin didepan kita gak ketemu lagi”. Rowi langsung menerobos sarang laba-laba yang menghalangi jalan kami.
“Maaf ya laba-laba”. Rowi menyingkirkan dengan perlahan sarang yang telah dibangun laba-laba itu.
“Mungkin laba-laba buat sarangnya cepet banget kali Cuma semalem kurang”.
Terus jalan, ditengah dinginnya hawa Ceremai yang terkalahkan oleh hangatnya keringat-keringat yang keluar dari pori-pori. Keringat yang telah keluar akan terasa dingin. Aku  rasa kostumku yang telah berlapis itu salah. Menghambat perjalananku karena kepanasan. Melewati pertigaan yang tidak aku sadari keberadaannya.
Ditengah perjalanan kami menemui  kembali sarang laba-laba yang lain. Lebih rapih dan menutup jalan. Dari atas sampai bawah. Tidak mungkin orang bisa menunduk melewatinya, karena pasti akan mengenai sarang laba-laba itu.
“Gimana ni?”.
“Kita balik lagi aja, cek pertigaan yang kita lewati tadi”. Dipertigaan itu terlihat tanda panah. Menuju puncak dan menuju apuy. Kami mencoba ke jalan yang lain. Ternyata jalannya menurun. Lebih tertutup oleh semak-semak dan dahan pohon. Kami ragu itu jalan yang benar. Kami bolak balik dengan ragu.
“Bismillahirahmanirahim aja deh, kita lewatin sarang laba-laba tadi”.
“Oke deh, maaf lagi ya laba-laba”. Kami melanjutkan perjalanan. Bercakap-cakap tentang perjalan ini. Terkadang bercanda membicarakan kisah orang yang diputar-putar perjalanannya sehingga tak mencapai tujuan. Tiba-tiba...
“Loh kok ada saung lagi? Pos satu lagi ya?”. Aku sedikit terkejut. Melihat dan memperhatikan ternyata sama. Ada saungnya, persis seperti waktu aku mendatangi pos satu saat pertama kali.
“Beneran lo Lum?...Gal, Cuma pos satu yang ada saungnya kan?”. Retas bertanya padaku yang lebih tau kondisi.
“Iya jeh, pas pertama kali ke Ceremai, gua Cuma nemuin satu saung doang”. Kawan yang lain deg-degan. Khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami terus mendatangi saung itu, mendekat dan terus mendekat. Mencoba menentang perasaan khawatir kami.
“Eh, tapi ini bukan saung yang tadi deh, soalnya gak ada tangganya”. Beberapa meter sebelum sampai saung, Ulum mengabarkan situasi yang terjadi.
“Oiya, emang beda”. Aku perhatikan lagi dengan seksama. Ternyata inilah pos satu yang sebenarnya. Ada bacaan pos satu. Saung tadi bukan pos satu. Ternyata ketika aku pertama kali ke Ceremai aku melewati jalan yang berbeda dari kali ini. Sial, malam menghalangiku untuk mengingat-ingat.
“Langsung evaluasi, apa aja kesalahan kita kemarin, biar gak ada beban”. Serempak berempat duduk disaung itu, saung yang sangat mirip dari saung sebelumnya, dengan semen menopang empat tiang kayu. Saung itu cukup diduduki oleh dua puluhan orang. Tidak lesehan, tapi duduk.
“Kayaknya gak ngajak-ngajak yang lain jadi karma”.
“Bisa jadi, kirim sms Tas ke anak-anak. Minta maaf dan doa”. Handphone yang kami harap ada sinyalnya kami coba manfaatkan. Retas ketik kalimat yang panjang dan penuh pengharapan  mendapatkan maaf dari teman-teman kami yang kami rasa telah kami lukai. Meminta doa mereka.
“kirim ke siapa nih...”.
“Ke anak-anak yang suka OL malem-malem”.
“Ok deh...”. Kami mencoba mengirim, namun belum ada laporan delivered. Kami bernafas, beristirahat, mengingat kesalahan kami tadi siang, tadi pagi, tadi sore. Oh ya, aku sempat membentak ayahku sebelum berangkat, astaghfirullah. Ada yang lupa ini dan itu, uang kembalian yang salah, dan yang paling kami sesali, menyembunyikan rencana perjalanan ini pada teman-teman kami yang telah dua tahun hidup bersama berasrama, telat salat. Oh banyak ya.
Perjalanan kami lanjutkan. Trek pos satu ke pos dua adalah yang paling berat. Terus menanjak dengan tanah dan akar membentuk tangga-tangga yang cukup tinggi. Mudah membuat kami merasa capek dan pegal dengan harus mengangkat tubuh kami lebih tinggi dari biasanya. Ilalang-ilalang mulai tergantikan oleh pohon-pohon tinggi yang tua. Tak ada pemandangan karena gelap. Kami di dalam hutan hujan daerah tropis Indonesia. Hanya berempat melewati tengah-tengah hutan belantara ini.
Pos dua kami lewati. Tenaga yang mulai hilang, rasa lelah yang sangt terasa. Fajar sudah hampir terbit. Rencana melihat sunrise benar-benar pudar. Tak mungkin kami menuju pos tujuh pos terakhhir di puncak dalam waktu dua jam, dengan kondisi yang kecapean dari perjalanan Serpong ke Majalengka. 
“Istirahat sebentar, habis itu pos tiga kita makan mie dulu, di pos empat kita tidur empat puluh lima menit terus salat subuh”.
Langsung kami menuju pos tiga, perjalanan yang sedikit lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Perjalanan yang lebih pendek dan sebentar dari sebelumnya. Lampu senter menerangi jalan setapak yang dilewati. Bintang mengiringi jalan menuju puncak Ceremai, angin dingin nan sepoi-sepoi tak mau kalah menemani kami hingga puncak nanti. Sampailah kami di pos tiga dengan selamat. Langsung saja semua menurunkan tas yang dibawanya, membuka tas dan mengambil mie yang telah dibawa. Ada nasi timbel juga yang telah ibu persiapkan untuk ini semua. Kami memasak mie ala kami dan sedikit nmemberi kami energi baru.
Masak Mie
Retas berjalan sedikit perlahan, mencoba berjalan dengan tanpa alas. Nyaman, namun harus hati-hati karena tanah yang keras dan licin. Perjalanan menuju pos empat, energi sudah terisi namun pegal-pegal di kaki masih terasa. Jalan-jalan kami di tanah abang, dan perjalanan selama empat jam di kendaraan cukup membuat kami merasa pegal dan energi pergi menghilang dari badan kami.
Pos empat tiba.
“Semuanya langsung tidur aja, biar gak kedinginan”. Semua langsung menurunkan tasnya. Aku langsung duduk dan berbaring, diatas tanah yang tidak kalah dingin dengan udara sekitar. Kami harus langsung tidur selama tubuh kami masih hangat karena  perjalanan. Tak sampai sepuluh menit, alam kembali sunyi dengan dengkuran tidur orang kecapean.
Sejam telah berlalu, rencana kami terlewat lima belas menit. Tidak langsung menunaikan salat subuh. Kami harus berjalan terlebih dahulu untuk mengusir rasa dingin yang membuat tubuhku menggigil. Jalan sebentar dan rasa dingin pun pergi. Aku dan lainnya salat subuh berjamaah dengan tayamum. Dalam kesunyian alam yang dingin, salat subuh begitu nyaman. Sujud menyentuh tanah dingin yang kelak akan menemaniku sendiri. Tetesan hangat dari mata terasa nikmat bersahaja. Begitu terasa dekat antara aku dan tuhanku. Walaupun tanah yang kusujudi miring dan tidak mendatar, tidak mengurangi kekhusyuan salat yang kami dirikan.
Salam kiri menutup salat subuh, tak lama kemudian aku dan kawanku beranjak melanjutkan pendakian. Satu langkah demi satu langkah, hembusan demi hembusan, hentakan demi hentakan, mewarnai jalan dan pendakian. Akar-akar benar-benar membentuk tangga yang rapi. Cocok membuat kami pegal dan lelah. Pohon besar menaungi kami dengan daunnya yang banyak. Sebentar berhenti, mencari pemandangan yang bisa kami dapatkan. Semua hijau oleh daun, dan coklat oleh batang. Sedikit berkabut.
Di pos lima, matahari telah benar-benar melebarkan sinarnya ke penjuru Ceremai. Kami istirahat sejenak, melahap sebagian perbekalan yang kami bawa. Mengeluarkan sebagian bawaan yang tidak diperlukan untuk naik ke puncak. Menyimpannya dengan rapi dan menutupinya. Aku dan kawanku melanjutkan dengan hanya membawa sebagian minum dan makanan.
Naik dan mulai naik. Menanjak dan terus menanjak. Akar dan tanah mulai tergantikan oleh batu besar dan sedikit pasir. Bunga keabadian edelwis mulai terlihat di ketinggian dua ribu tujuh ratus meter diatas permukaan laut. Tengok kanan dan kiri, daun-daun pohon sangat minim. Hanya batang pohon yang coklat dan terlihat rapuh, kurus. 
Edelwis
Edelwis yang Mneguning
“Edelwisnya banyak banget”. Terkesima dengan kumpulan edelwis.
“Nanti habis pos enam naik dikit, ada kebun edelwis. Kalo bulan juli agustus bunganya lagi banyak mekar”. Aku menrangkan dengan sok tau. Edelwis kini yang kami lihat, kuning bunganya. Saat dulu aku pertama kali kesini berwarna putih dan indah.
“Petik boleh gak”.
“Gak boleh!, inget!!! take nothing but picture”.
“Ada lagi selain picture, SAMPAH”.
“Ya, itu juga boleh”.
Pos enam sampai, naik sedikit. Kumpulan edelwis telah menunggu kami. Menyambut kedatangan kami. Hai the flower of eternity. Sebentar istirahat.
Lanjut, kami jalan menuju pucak yang tinggal beberapa meter lagi di depan kami. Semua batu dan batu, mendaki dan memanjat batu. Hari yang sangat cerah, tak ada awan hitam dan gelap. Langit terlihat biru. Angin dipuncak menyentuh pakaian dan menembusnya, tidak dingin, karena sang surya telah menghangatkan aku dan kawanku. Menapaki batu demi batu, tangan yang menggengam erat, tidak terasa lelah. Tujuan sudah di depan mata, dan akhirnya kaki ini menginjakan Ceremai untuk yang kedua kalinya. 
“WOOOOO.... PUNCAAAAAAAAAAAAAAKkk”. Teriakan yang menggelegar, membuang rasa lelah dan cape saat perjalanan.
“HUH...”.
“Akhirnya kita sampai puncak, alhamdulillah”.
“Kibarin benderanya”. Ulum mengeluarkan bendera berwarna hijau, dengan lambang Foranza ditengahnya yang berwarna putih. Kami kibarkan, bendera yang Ulum buat sendiri. Tertiup angin.
Kibarin Benderanya
“Huh, kita berhasil. Mengisi liburan yang Cuma tiga hari, dipake buat naik Ceremai”.
Semua senang, aku memandangi sekelilingku, langit, puncak gunung lain, awan. Melihat ke bawah terlihat kumpulan awan. Membentuk seperti ombak di lautan. Langit biru, hawa yang tenang. Angin yang dingin. 
Kami bertemu dengan pendaki lain, berasal dari salah satu universitas. 
Kawah Ceremai yang bersahabat. Sedikit mengeluarkan asap belerang. Luas dan cekung membentuk mangkuk. Namun jika aku meloncat ke dalamnya akan celakalah aku. Kami makan dan membuka perbekalan kami. Tidak lupa kacang yang akan menemani obrolan kami di puncak tertinggi di jawa barat ini. Tiga ribu tujuh puluh delapan meter diatas permukaan laut. Mengambil gambar dan foto sebagai saksi bisu dan kenangan abadi.
Kawah Ciremai

Jaket Foranza
“Habis ini foranza ajak semua ke sini”.
“Memangnya mau semua dan kuat???”.
Setelah puas ngacang, dan berfoto dengan gaya masing-masing, kami kembali turun ke bawah. Dengan sedikit berlari, melewati jalan-jalan yang kami lalui saat malam hari. Kini lebih terlihat jelas, jalan-jalan itu. Yang telah membuat kami kelelahan. Kini hanya terus menurun, dan lebih cepat dan mudah dan tidak terlalu capek. Di perjalanan kami menemui pendaki lain. 
“Misi, pos berikutnya masih jauh ga?”. Pertanyaan yang sering ditanyakan dengan wajah yang kecapean, keringat mengucur membasahi kaos. Nafas yang tersengal-sengal. Dengan badan yang tidak bisa disebut kurus.
        “Sekitar setengah jam lagi”. Aku jawab mengira-ngira. Namun, ternyata saat mereka telah jauh kutinggalkan, aku baru ingat bahwa setengah jam adalah waktu aku turun ke bawah menuruni gunung ini.
Empat Sekawan
Retas
Me

Ulum
Rowi
Continue reading →
Jumat, September 27

Just image

1 komentar
Iseng-iseng ngambil gambar dari 3 tempat dan waktu yang pernah saya alami, dengan menggunakan kamera handphone Samsung GT-S5333 dengan 3.15 MP. 

Yaaah walaupun kualitas gambar tidak terlalu baik, dan tanpa pengeditan sedikitpun alias natural, tetap saya berusaha mengambil sudut serta pemandangan yang cantik dan enak untuk dilihat sebagai gambar di media. Selamat menikmati!!!
Dari point view Bromo













Menunggu bus Pengganti

Continue reading →
Rabu, September 11

Picture : Bromo #2

0 komentar
Lanjutan dari post  Picture : Bromo #1 
Gambar-gambar ini diambil ketika saya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan menggunakan kamera handphone Samsung GT-S5333 dengan 3.15 MP. 

Yaaah walaupun kualitas gambar tidak terlalu baik, dan tanpa pengeditan sedikitpun alias natural, tetap saya berusaha mengambil sudut serta pemandangan yang cantik dan enak untuk dilihat sebagai gambar di media. Selamat menikmati!!!
Jalur Pendakian yang keliatan, kering, jauh, membuat malas 
untuk melanjutkan perjalanan melihat kawah bromo

Beberapa Kilometer hanya akan di temui jalan berpasir 
yang kadang menenggelamkan ban kendaraan



Lagi-lagi tebing adalah benteng yang sangat kokoh



Akhirnya mencapai puncak tangga, betapa manusia
yang dibawah terlihat bak semut dari sini




Alternatif jalan dengan mobil bak, hati-hati mata anda, dan 
bersihkan hidung dan telinga dari debu-debu yang akan menempel

Continue reading →
Jumat, September 6

Picture : Bromo #1

0 komentar
Gambar-gambar ini diambil ketika saya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan menggunakan kamera handphone Samsung GT-S5333 dengan 3.15 MP. 

Yaaah walaupun kualitas gambar tidak terlalu baik, dan tanpa pengeditan sedikitpun alias natural, tetap saya berusaha mengambil sudut serta pemandangan yang cantik dan enak untuk dilihat sebagai gambar di media. Selamat menikmati!!!

Benteng yang sangat Kokoh melintang 




Jasa kuda untuk pengunjung menuju dan kembali dari kawah bromo




Padang Rumput yang menenangkan



Kawah Bromo yang selalu Berasap




Jalanan Pasir yang dilewati berbagi macam kendaraan

Continue reading →
Rabu, Agustus 28

Anak-Anak Petani

2 komentar
Bulan Agustus-September  menjadi bulan yang penuh peristiwa untuk diingat tahun ini, khususnya oleh para Mahasiswa baru, manusia yang baru saja lulus bangku SMA. OSPEK, kadang terdengar sangar bagi sebagian orang, namun menantang bagi yang lain. It is choice!

Tak terkecuali IPB, institut Pertanian Bogor, puji syukur pada tuhan memberikan saya kesemptan untuk belajar di Institut Pertanian terbaik bangsa ini, bulan ini pun saya OSPEK, mari menikmati kisah dibalik OSPEK IPB atau yang lebih tepatnya MPKMB (Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru)

Kegiatan MPKMB 50 ini diawali pada tanggal 26 dan diakhiri pada 28 Agustus 2013. Dengan tujuan mengenalkan kampus IPB dan mengenalkan lebih dalam mengenai sebuah hakikat pertanian. Kegiatan ini diikuti oleh 3720 peserta Mahasiswa baru dengan 300-an panitia dari BEM KM IPB. Tentunya bukan hal mudah bagi para panitia mengkondisikan 3000 orang untuk selalu tertib pada jalannya. 

Tahun ini adalah Generasi ke 50 IPB yang akan menjadi peserta MPKMB 50. Generasi yang dijuluki “Generasi Emas” yang diharapkan dapat mewujudkan pertanian emas indonesia. Adalah orang-orang yang beruntung menjadi bagian dari ini.

Sebelum hari tenggat MPKMB, para Maba (Mahasiswa Baru) sudah diintruksikan untuk mempersiapkan diri menyambut acara ini. Dengan persiapan ini dan itu yang lumayan bikin saya bergadang karena saya mempersiapkannya pas sebelum hari H, maklum, sebelumnya tak ada waktu dan kecapean. Hehe... (Ngeles)

MPKMB adalah kegiatan yang tidak akan membuat seorang anak meminta pulang  pada ortunya. Begitu toleran dari senior pada para Maba, namun tetap tegas menghadapi para pelanggar. Tanpa ada perpeloncoan, pembodohan, lari-larian apalagi push-up d atau Squat-Jump. Semua serba penyadaran melalui  intelektual, spiriutual dan emosional. Maba dituntut Nyadar dengan sendirinya tanpa paksaan dari senior. Nice.

Yang lebih memesona adalah sikap para kaka-kaka kelas yang baik hati pada para Maba. Kaka SG(Kaka Pembimbing Kelompok)  ini banyak mengontrol, membantu, serta menyelesaikan masalah kelompok.  Sepenuh hati menjalankan tugas sebagai anggota organisasi yang “idealis”. Para medis pun selalu siap ketika MPKMB ini berlangsung membantu para siswa yang butuh “keistimewaan”.

Senin, 26 Agustus 2013
Dengan berbalut baju putih celana hitam, bercaping dengan sepatu hitam kaos kaki putih, para Maba dikumpulkan di depan asrama masing-masing. Yaa, asrama...tahun pertama bagi Mahasiswa IPB wajib berasrama demi terjalinnya persaudaraan. Belum sampai jam enam para Maba telah berkumpul walaupun masih saja ada yang telat -_-“. Para SG membantu mengecek kelengkapan untuk MPKMB.  Komdis (bagian kedisiplinan) membantu mobilisasi mahasiswa, melewati gedung-gedung fakultas, dan berlabuh di gedung GWW (Graha Widya Wisuda), untuk menyimak pembukaan MPKMB oleh bapak Rektor sekaligus mendengarkan kuliah.

Kuliah Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto begitu menarik. Membuka cakrawala tentang IPB ,pertanian dan Indonesia. Membuat para mahasiswa menghapus jauh jauh keraguan tentang pertanian, memantapkan hati untuk berlabuh di IPB dan bangga akan almamater. Beliau mengatakan bahwa caping yang kami bawa merupakan simbolis apresiasi pada pahlawan ketahanan pangan, petani  yang sampai hari ini belum sejahtera. Karena kuliah itu juga saya tahu bahwa negeri ini memiliki potensi yang besar di bidang pertanian, namun memiliki masalah yang cukup complicated dan beresiko besar jika tidak segera diselesaikan. Kami dicekoki materi yang akan membuat kami sadar dengan sendirinya mengenai negeri yang dicintai ini.

Setelah kenyang dengan kuliah bapak rektor, acara dalam GWW ini dilanjutkan dengan penjelasan keorganisasian Mahasiswa oleh Presiden BEM KM IPB, M. Sigit Susanto dan Ketua BEM TPB IPB angkatan 49, Sunarya yang juga sebagai Komdis di MPKMB 50 ini. Kak Sigit menjelaskan tentang sejarah, latar belakang, tugas-tugas dan apapun yang berkaitan dengan BEM KM IPB. Sedangkan kak Sunarya tentang BEM TPB yaitu organisasi BEM untuk tingkat pertama IPB.

Hari ini juga ada kaka Mahasiswa Berprestasi Nasional 2013 dari IPB sebagai Moderator pada penjelasan dari tiga wakil rektor di beberapa bidang atau perwakilannya.

Pulangnya, kami kembali dimobilisasi menuju asrama. Ini perlu untuk kelancaran dan ketertiban, karena antara GWW dan asrama cukup jauh dan dibatasi jalanan kuda besi yang lalu lalang.

Selasa, 27 Agustus 2013
Kembali kami beracara ria di GWW, gedung yang akan jadi tempat wisuda kami, aamiin. Hari ini dibahas tentang kewirausahaan dan pergerakan mahasiswa. Rencannya juga hari ini akan diadakan demonstrasi unjuk rasa oleh para Maba. 

Bapak Ir. Abdul Basith M.Sc., seorang motivator lulusan IPB dan motivator usaha yang akan menyampaikan kewirausahaan dan motivasi untuk menjadi seorang wirausahawan. Kawan-kawan terlihat antusias mengikuti acara ini yang begitu menginspirasi. Dilanjutkan penyampaian materi wirausaha oleh Bapak Muhammad Nadjikh, seorang pemilik usaha di bidang perikanan yang memproduksi sebagian hasil laut terbesar di Indonesia. Lalu estafet ke kak Sigit Susilo, seorang pemilik toko Brownies yang terbuat dari tepung cassava yang cukup terkenal di Bogor. Kewirausahaan ini kita dituntut untuk kreatif dan inovatif mengingat persaingan di masa depan akan semakin ketat.

Selanjutnya mengenai pergerakan mahasiswa, kali ini kak Achmad Firman wahyudi dan Bapak Irfan Syauqi yang keduanya merupakan mantan Presiden BEM KM IPB. Jargon “Hidup Mahasiswa” menggema selalu mengiringi pembicaraan ini. Kak Sigit Presiden BEM KM tahun ini tak mau kalah, di akhir pembicaraan dia memberikan buah tangan dan berfoto bersama, reunian Presiden BEM KM IPB!!!. Pada pembicaraan ini, dikenalkan mengenai penyebab, alasan kenapa mahasiswa harus turun ke jalanan membela rakyat. 

Selepas salat dzuhur, kami mengadakan longmarch dan berdemo mengenai isu pertanian yang ada. Berjalan bergandengan tangan, untuk mencegah masuknya penyusup dan provokasi dalam barisan. Debu banyak yang menempel disana sini permukaan tubuh. Cuaca panas sangat mendukung untuk sebuah perjuangan unjuk rasa yang selalu panas. kemudian berakahir di lapangan sepak bola yang masih dipayungi oleh terik matahari yang panas. Di tengah kepanasan itu Maba diingatkan kembali mengenai nasib petani di bumi pertiwi oleh Presiden BEM KM IPB.

Rabu, 28 Agustus 2013
Hari terakhir, yang diharapkan akan menjadi Happy ending oleh Maba maupun panitia. Para Maba berkostum batik, berjalan kembali  menuju GWW. Disambut dengan Pembawa Acara yang tertawa layaknya pahlawan bertopeng shinchan -_-“ tapi asik juga sih. Tak disangka, pagi ini bapak menteri RI Dr. Ir. H. Suswono MMA datang ke IPB. Sang menteri yang merupakan alumni IPB ini menyempatkan datang ditengah-tengah kesibukannya. Kemudian memberikan kuliah mengenai pertanian Indonesia. Mengungkapkan berbagai hal yang tidak dapat diketahui melalui media yang penuh kelabu. Menyadarkan kembali tentang pertanian Indoesia. Setelah bapak menteri selesai, pembicara diganti oleh Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, seorang mantan Menteri kelautan dan Perikanan Indonesia yang juga alumni IPB. Menerangkan kembali mengenai fakta, kelebihan, angka dan kekurangan yang terjadi di Indonesia ini. Lalu dilanjutkan pembicara oleh Bapak Donny, seorang pengusaha buah. Yang berbagi kisah tentang bisnis buah-buahannya.

Lalu ada hiburan dari UKM musik, pengumuman pemenang-pemenang MPKMB, Band Too I late sebagai pencipta jingle tampil membuat suasana GWW riuh. Lagunya yang selalu dinyanyikan oleh peserta MPKMB 50 membuat mereka diinginkan kehadirannya ditengah-tengah para generasi emas ini.

Kemudian Evaluasi dari komdis selalu, kini dalam ruangan dengan semua komdis masuk ke GWW, yaaa, kita harus camkan serta lakukan apa yang mereka katakan untuk keutuhan attitude IPB. Lalu dilanjutakna penutupan yang pada akhirnya pantia bersatu padu dengan peserta bernyanyi bersama. Ada juga yang kelihatan terharu tuh. selamat ya...

SO...
Kalau ada kata yang bisa lebih menggambarkan Luar Biasa, itulah yang pantas diberikan untuk MPKMB 50 ini. Panitia yang selalu semangat menjalankan tugas membuat para peserta ikut serius menjalani MPKMB. Peserta yang selalu antusias dapat kembali mengisi pasokan semangat para panitia.

Yang paling menarik bagi saya adalah para pembicara bersama dengan materi-materinya yang menginspirasi. Membuka fakta peristiwa, memotivasi, serta mendorong tekad memajukan Pertanian Indonesia.Peduli terhadap isu pertanian, khususnya negeri ini.  FS!!! Yes bismillah now i have choice, how aboutyou, R U ready?

Teriakan di GWW selalu membuat gemetar, materi yang disampaikan selalu menyadarkan. Bahwa pertanian Indonesia perlu untuk dikembangkan secara pesat sepesat pertumbuhan jumlah penduduk. Bahwa petani butuh untuk disejahterakan. Bahwa anak-anak petani era ini adalah harus menjadi seorang Petani Berdasi. Sehingga memutuskan rantai kemiskinan. Bahwa kita harus menghentikan Impor sehingga dapat menjadi negara maju dan mandiri. Bahwa ketidakadilan pangan terjadi di dunia ini. Bahwa tugas mahasiswa IPB menjadikan hal yang buruk menjadi baik dan yang baik lebih baik khususnya di bidang pertanian.

Sampai acara MPKMB berkahirpun Euforia MPKMB masih terasa. Yel-yel jargon-jargon masih diteriakan di gedung asrama. Tweet-tweet menggema tentang MPKMB 50. Facebook tak mau kalah, di group ada yang post tentang MPKMB ini itu. Ini tuh Waw. Sukses berat untuk MPKMB 50. Terimakasih untuk semuanya.  Selamat jadi Mahasiswa IPB, Gold Generation !

NB: Sorry no picture, cause when MPKMB camera and handphone were forbidden, you can see from Mr. Documenter MPKMB50, :D



Continue reading →
Sabtu, Februari 9

Wow...

0 komentar
Wow...
 Bumi masih bisa dipijak, udara mengalir terus...
 selama 6570 hari... tak terasa...
 Mimpi harus lekas menjelma,
 menjadi sebuah nyata...
 Iam havent full of plus....

...
thanks to you for the best chocolate for me during 18 years...
Continue reading →
Senin, Desember 31

Touch Sky Sky

1 komentar
Puncak Ciremai
***

Memandang langit kadang menenangkan. Akan lebih menenangkan melihatnya dari tempat tertinggi, sehingga tak ada satupun yang menghalangi untuk melihat langit. Sky!!!

***


Continue reading →
Selasa, November 20

Sepertinya Sudah Malam

0 komentar
Kaya batu di dasar sungai, hari ini Gira cuma mengikuti kemana arah angin mengarahkannya.  Banyak kegiatan hari ini dan selalu sama seperti hari kemarin. Bangun, sekolah, intensif, ke masjid, belajar malam dan tidur.
“Bosan banget Dul udah jadi kelas tiga, kerjaannya gitu-gitu doang”
“Makanya coba pacaran, ra.” Abdul berteriak tak karuan, mengagetkan Gira.
“Lah? Kesurupan makhluk apaan lo? Bukannya lo udah tau, kakak kelas kita ada yang drop out gara-gara itu, ini kan sekolah asrama yang berbeasiswa.”
“Katanya  ente bosen kerjaan kelas tiga gitu-gitu aja,  ane kasih solusi tuh!”
Pikiran Gira tak terima dengan apa yang telah Abdul teriakan padanya. Dia memutuskan untuk berlayar di gedung  F, gedung asrama putra,  membaca lembaran koran yang tercecer di lantai. Berita hari ini, Obama memenagkan pemilu. Ia menjadi presiden Amerika Serikat untuk yang kedua kalinya.
“Wah si Obama menang lagi Bem.”
“Baguslah San, daripada Mitt Romney yang banyak didukung  Zionis Israel, masih mending Obama kan?” Telunjuk jarinya menunjuk capres yang kalah  itu.
“Sama baelah kalo menurut  gua mah, dua-duanya mendukung kapitalisme di dunia. Negara-negara berkembang yang gak punya kekuatan politik bakal tertindas juga, apalagi negara islam yang pengen maju, bakal terus dikasih tekanan biar berlutut di depan mereka.”
“Gak gitulah, udah jelas Obama yang pernah makan bakso di Indonesia lebih respect dalam hal kemanusiaan. Buktinya dia bikin lembaga Obama Care, itukan bukti dia Care. Terus, banyak pemimpin timur tengah yang lebih mendukung dia buat jadi presiden Amerika.  Pendapat lo salah, ru.”
Gira cuma melongo mendengar ocehan ketiganya.  Dia hanya berpikir, tahu apa mereka bertiga tentang keadaan di dunia luar sebenarnya. Pikiran mereka hanya akan menjadi debu yang beterbangan tanpa arah dan tujuan.
“Gak boleh bilang gitu Bem, lu harus bisa menghargai pendapat orang lain, itu menunjukan kualitas lo sebagai manusia yang berpendidikan, apa lagi si Fahru temen lo, yang tiga tahun sekamar sama lo, dan gua rasa, kalian bakal terus sekamar ampe tua kelak.” Gira terkejut mendengar jawaban Hasan yang tidak langsung menusuk pikirannya dan mebunuhnya secara sadis .
“Iiiihhh... Nasib gua emang kurang beruntung sekamar sama Fahru!”
“Mana mau gua sekamar sama lo terus Bem,  mending sekamar sama kucing  yang suka nongkrong di kantin.”
“Ibem, Fahru, kalian harusnya akur dong! udah tiga tahun.” Hasan tersenyum menyindir keduanya. Ibem dan Fahru melihat tajam pada Hasan.
Ocehan ketiga sekawan ini mulai ngawur, Gira mulai bosan mendengarnya. Ia kembali berlayar mengarungi lorong-lorong gedung F. Meninggalkan para politisi yang sedang berlabuh di pusat informasi. 
“Nomor ini berapa Gal?”
“Ini jawabannya udah dibahas dikelas gua, tadi siang...”
Gira melewati pelabuhan itu, jenuh mendengar kabar nomor berapa ini dan itu. Dengan langkah kucingnya, dia berlabuh di pelabuhan lain berharap mendapatkan buah tangan yang bisa dibawa pulang ke kamar.
“Woo... Farhan baru pulang dari lomba, bawa makanan lagi.” Buah tangan yang seperti ini yang dia cari.
“Oops, juara berapa lomba matematikanya?  Pertama? Alhamdulillah, selamat bos. Kapan traktirannya? Temen sekelas pada nungguin tuh, eh, traktir kamar dulu ya, habis itu  kelas terus angkatan kan?” Farhan hanya tersenyum dan mangut-mangut menanggapi kawannya.
Gira yang tadinya akan meminta buah tangan,  menarik kembali niatnya tersebut. Memandang senyuman kemenangan dari Farhan membuatnya senang, namun memandang kawan lainnya dia kecewa. Pengemis!
Gira kembali mencari harta karun yang dicarinya, walaupun dia tidak tahu macam dan tempat harta karun itu. Berputar-putar bolak-balik utara dan selatan, ia berlabuh di pelabuhan yang sepi. Balkon, di kamar 202 F. Memandang biru tuanya langit bertaburan awan dan asap kota yang menghalangi cahaya rembulan dan bintang.  Memikirkan hal yang membuat dadanya sesak.
“Kenapa ngelamun Gir?” Elgad datang tiba-tiba dari kamar sebelah. Membuyarkan lamunan.
“Oya Gir, gua lagi galau nih, boleh kan gua duduk samping lo?” Gira hanya mangut-mangut.
“Tau gak Gir, mau jadi apa bangsa ini ke depan? Korupsi lah, tawuran lah. Okelah Indonesia ini negara kaya tapi kalau pengolahnya cuma bisa korup dan tawur mau jadi apa negri ini.” Elgad menceritakan kegalauannya pada orang yang salah. Kawannya itu hanya memandang ke langit.
“Gue pengen  ubah semuanya. Lewat pendidikan Gir. Gua pengen membangun sekolahan kaya Insan Cendekia yang tercinta ini Gir. Tapi tentunya yang lebih bagus lah.” Gira hanya mendehem.
“Guru dan murid lebih akrab Gir, biar ada mosi saling percaya antara golongan tua dan muda. Selain itu, di sekolahnya keadilan harus ditegakan setinggi-tingginya .” Gira sudah mengiranya bahwa Elgad sedang tidak senang pada sekolah ini. Sementara itu, suara gesekan dahan turut menemani mereka.
“Gir udah tahu belum? Amir, mantan ketua MPS  kita, besok...  Dia mau pulang duluan ke rumah. Dia di drop out Gir.” Gira mengalihkan pandangannya cepat pada Elgad dengan serius.
“Beneran Gad? Emang kenapa dia bisa dikeluarin?” Gira kaget tak terbayangkan.
Memang beberapa bulan yang lalu, Amir telah diskors selama satu minggu. Karena melanggar peraturan tingkat empat. Skorsing itu menyebabkan nilainya hancur lebur. Dia tidak masuk saat pekan ulangan dan tertinggal materi yang akan diujikan untuk UTS pada minggu setelah pekan ujian. Kini apa yang telah Amir lakukan? Oh tuhan, benarkah orang seperti itu melakukan hal konyol yang dapat mengeluarkannya dari tempat ini.
“Dia bawa handphone ke asrama. Itu pelanggaran tingkat tiga, setingkat dibawah pelanggaran ke empat yang dia lakuin sebelumnya.”  Atas dasar kebodohan apa dia nekad melakukan itu? Sudah tahu bahwa ini sekolah beasiswa yang punya peraturan ketat tak terkira. Masih berani dia melakukan itu. Bahkan Gira pun tak berani  melakukan pelanggaran tingkat satu. Sudahkah dia bosan sekolah disini?
“Gir, dia pernah bilang sama gua, dia muak Gir. Dia merasa gak mendapatkan keadilan di sekolah ini. Terutama pas kasus pelanggaran tingkat empatnya itu. “ Dia menyalahkan sekolah, Amir itu menyalahkan institusi yang membuatnya pintar. Bahkan tanpa membayar.
“Dia mengaku dia salah besar Gir, tapi dia tetap merasa sebuah kebenaran dan keadilan ada yang disembunyikan.” Inilah yang dinamakan buruk sangka. Tak akan ada buntut dari permasalahan.
“Kenapa dia gak melawan? Kenapa dia Cuma diam dan malah melanggar lagi?”
“Dia bilang kita apel dan mereka durian. Kalau kita menyerang kita yang hancur, dan kalau mereka menyerang, kita tetap hancur Gir. Pelanggaran terakhir yang dilakukannya, karena dia  kurang perhatian terhadap peraturan di sekolah ini. Dia masih sakit hati.” Tetap saja Gira merasa aneh terhadap Amir, mantan ketua MPS, ketua sebuah organisasi yang menuntut sebuah contoh dan tauladan untuk dikerjakan. Dimanapun, kapanpun. Kini, ketua itu masuk dalam kubangan penuh kotoran babi. Tak seorang pun ingin mendekatinya.  Juga  tak seorang pun tahu apa isi hatinya.
                “Biarlah Gir, nasibnya dia emang kaya gitu. Gua yakin yang terbaik buat dia, ya... yang kaya gitu Gir.” Nafasnya berhembus pelan-pelan, melepas masalah yang dibicarakan. Sejenak mereka membisu, hanya suara angin dan gesekan dahan yang terdengar.
                “Mending banget lo ada di sini, ada apa? Lagi mikir apaan Gir? Gua pengen tau  yang dipikirin orang  ganteng, pinter, atletis kaya lo. Cewe ya?” Dada Gira tiba-tiba sesak kembali, mendengar kata-kata terakhir yang Elgad katakan. Namun, garis-garis wajahnya tidak nampak kaget. Ditutupi oleh suasana remang-remang. Gira serasa ingin beranjak dari pelabuhan itu dan kembali berlayar.
                “Gua pengen balik  ke kamar, udah ngantuk nih.” Alasan klasik dipilih Gira untuk beranjak.
                “Ok deh,  Gir, kayaknya si Dita suka sama lo, dia ngeliatin lo terus pas kemarin.”
                “Mungkin dia benci dan pengen ngebunuh gua. Ngeliatin gua dan mencari kesempatan untuk menerkam.” Gira Jawab asal, dengan menahan dadanya yang terhunus.
                “Lo juga suka dia ya? Gira?” Gira pergi meninggalkan Elgad, menuju kamarnya. Sementara Elgad berteriak dari belakang memanggilnya.  Namun, teriakannya itu tertutupi oleh badai yang berkecamuk dalam hati Gira.
***

Rabu, 10 Oktober 2010, 203 F, MAN Insan Cendekia Serpong, 22:00 WIB
                Waw, hampir tiga bulan tidak menulis Si Biru ini. Tiba-tiba saja pengen nulis. Bukan nulis kejadian satu, dua  hari, minggu, bulan, yang lalu. Aku ingin menuliskan malam ini. Malam penuh awan dan asap. Berjalan silih berganti.
                Malam ini, tak pernah aku menjalani sebelumnya. Aku telah menutup mata terhadap semua kejadian di dunia ini. Hampir malam-malam lalu, aku lewati dengan hanya belajar untuk mendapatkan nilai yang diharapkan. Tanpa menengok sedikit pun pada para politisi, pengemis, pemenang, pengecut, dan  kawan lainnya. Oh tuhan, mataku tidak buta, telingaku tidak tuli, tapi aku tak tahu kabar di luar diriku sendiri.
                Akhirnya, tetap dalam pikiranku hanya dua hal, pelajaran dan cinta.
                Ya, sedikit melankolis. Saat Elgad mengatakan namanya, dadaku sesak, mual, ingin kukeluarkan semuanya. Inikah yang namanya cinta? Belum sempat kulihat wajahnya, baru kudengar namanya, dada ini sudah sesak. Akankah aku mati dihadapannya saat ku memandang indah matanya.
                Pada akhirnya aku hanya seorang pengecut. Tak berani mengakui, berlari menjauh, bagaikan kelinci dikejar sang elang. Seharusnya aku berani, karena ku tau dia melihat padaku lama waktu itu, dan akan menunduk padaku. Tapi sayang, aku hanya seorang kelinci yang takut  mendekati indahnya mata elang.


               
Sepertinya sudah malam.
                Aku masih bosan.           
                Dan ingin tidur menjalani mimpi yang tak pernah nyata.
               
“Temukan dunia dengan berlayar kemanapun tanpa menengok ke belakang, kau akan menemukan harta karunmu sendiri. Yang orang lain tak akan dapat.”
***
Continue reading →
Minggu, November 4

Menghanyutkan Pornografi Dengan Islam

0 komentar

        Menurut UU No. 44 tahun 2008 Pasal satu ayat satu Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Negara Indonesia sendiri telah jelas menentang pornografi yang akan merusak martabat bangsa. Jika kita membaca UU No. 44 tahun 2008 tersebut, disana dicantumkan tentang pelanggaran mengenai pornografi yang dapat menjadikan pelakunya mendapatkan hukuman yang berat dengan denda bisa mencapai Miliaran Rupiah.
Jika kita melihat keadaan bangsa Indonesia sekarang, catatan terakhir menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat pertama dalam jumlah pengunduh dan pengunggah situs porno pada bulan Maret 2012. Yang mayoritas diantara mereka adalah para pelajar tingkat SMP dan SMA. Padahal pada pertengahan januari lalu peringkat Indonesia di posisi ketiga setelah Cina dan Turki. Bahaya yang ditimbulkan sangat mengerikan. Misalnya ditunjukan Jumri, mantan ketua Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Kalimantan Selatan menyebutkan bahwa terjadi peningkatan kasus seks bebas di kalangan remaja kota Banjarmasin. Tercatat angka persalinan usia remaja melonjak dari 50 kasus pada 2010 menjadi 235 kasus pada 2011. Kasus kehamilan tidak didinginkan juga naik dari 35 kasus menjadi 220 kasus. Itu baru di kota Banjarmasin. Bagaimana di kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, SERPONG?. Miris memang, tapi inilah kenyataannya.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan pornografi di Indonesia masih tinggi. Jika semua kasus dapat dibawa ke meja hijau, maka Indonesia mendapatkan banyak masukan uang miliaran rupiah. Karena kasus menggugah serta menonton hal yang pornografi dikenai denda 2.000.000.000 IDR.  Jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit. Menurut saya, pemerintah sudah pas menjadikan hukuman seperti itu, agar masyarakat benar-benar waspada dan menjauhi unsur pornografi yang dapat merusak masa depan bangsa Indonesia.
Indonesia memiliki penduduk islam terbanyak di dunia yaitu sekitar 85% dari 240.271.522 orang penduduk Indonesia yang ada.
 Islam merupakan agama yang sangat sensitif terhadap pornografi. Tapi kenapa ada negara yang penduduk beragama islamnya banyak bisa menjadi tiga besar pengakses situs porno didunia.
Dari tinjauan islam, pornografi merupakan hal yang sangat tabu dan merupakan sebuah perzinahan. Zina sendiri adalah persetubuhan yang dilakukan bukan oleh suami istri. Sebenarnya islam memiliki batasan-batasan tertentu agar penganutnya tidak terjerat dalam zina ini.
Seperti yang dijelaskan dalam surat Al Israa ayat 32.

“ dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini di dalam tafsirnya, “Larangan mendekati zina lebih mengena ketimbang larangan melakukan perbuatan zina, karena larangan mendekati zina mencakup larangan terhadap semua perkara yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut. Barangsiapa yang mendekati daerah larangan, ia dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya, terlebih lagi dalam masalah zina yang kebanyakan hawa nafsu sangat kuat dorongannya untuk melakukan zina.” (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal.457)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan lafazh ayat (yang artinya) “suatu jalan yang buruk” dengan perkataannya, “Yaitu jalannya orang-orang yang berani menempuh dosa besar ini.” (LihatTaisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 457)
Dua keterangan diatas telah menjelaskan bahwa zina adalah hal yang menyebabkan dosa besar. Mendekatinya saja sudah dilarang, akan sangat bodoh jika melakukannya juga. Mendekati zina dapat berupa melihat, memandang, menonton, mendatangi, mendengar, menyimpan hal-hal yang mengandung perzinahan. Allah juga telah jelas menjelaskan hukuman bagi pelaku zina baik perempuan maupun laki-laki yang tertera dalam surat An-Nur ayat 2

“perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Islam telah jelas menguraikan mengenai zina atau dalam pandangan modern adalah porno. Zina disebabkan oleh hawa nafsu yang dijadikan sebagai tuhan oleh manusia itu sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh allah dalam surat al Furqan ayat 43-44.  

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Allah telah menebutkan bahwa orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuahannya atau yang dia selalu menuruti apa kata hawa nafsunya maka dia adalah seperti hewan ternak, malah lebih sesat jalnnya dari hewan ternak itu sendiri. Islam telah membuat batasan aurat. Yaitu bagian tubuh yang haram diperlihatkan atau yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain selain muhrim. Aurat secara lebih spesifik berarti anggota tubuh tertentu dari manusia yang mengandung muatan seks atau mengandung daya tarik seks. Allah swt telah menyuruh agar wanita-wanita menutupi aurat-aurat mereka dengan pakaian-pakaian yang telah allah sediakan di bumi. Sehingga mereka dapat menjauhi zina sejauh-jauhnya. Dalam al quran allah berfirman pada surat An-nur ayat 31
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Dan di surat Al Ahzab ayat 59
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ash-Shabuny berkata, “Para mufassir berkata: Adalah wanita jahiliyah seperti juga wanita jahiliyah masa kini, lalu lalang di hadapan lelaki dengan dada dan leher terbuka, kadang badannya bergerak erotis atau rambutnya terurai untuk mendapatkan perhatian kaum lelaki. Sedangkan wanita muslimah menutupkan khumur mereka ke belakang, maka tinggallah bagian dadanya terbuka. Kemudian kaum mukminan diperintahkan untuk menutup bagian depannya sehingga tidak tampak lagi dan memelihara mereka dari kejahatan.”
Ketiga sumber diatas banyak menjelaskan tuntunan bagi wanita. Karena wanitalah yang menyebabkan pria terjerumus ke dalam nafsunya sendiri. Maka dari itu, sudah sangat tepat jika wanita itu sendiri yang mencegah terlebih dahulu agar tidak menjadikan para pria menyakiti dirinya. Lalu para mufassir menyebutkan bahwa jilbab yang dipakai wanita mukmin adalah jilbab yang sampai menutupi dada mereka. Jika tidak maka wanita itu belum bisa disebut sebagai wanita mukmin.
Bagi para lelaki, tidak boleh memandang wanita dengan hawa nafsu yang menggelora, karena setan akan membuat pandangan itu sangat indah dan akan mengundang keinginan untuk mengganggu wanita tersebut. Bahkan hadits rosul menyebutkan bahwa harus memalingkan pandangan dan menundukan pandangannya di hadapan wanita.
“pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Siapa saja yang menghindar karena takut kepada allah, ia akan dikaruniai oleh allah keimanan yang terasa manis di dalam hatinya”.(HR Hakim)
 Dahulu kala para sahabat sangat khawatir dapat terjerumus ke dalam dosa zina. Sehingga mereka akan mengebiri, namun Rosulullah saw melarangnya
“dari Usman bin Madlun, bahwasnnya dia berkata, ya rosululloh, sesungguhnya saya adalah lelaki yang suka membujang. Izinkanlah saya berkebiri. (Jawab rosul):Tidak, tetapi engkau puasa saja” (HR Ath Thabrani)
Hadits tersebut menyebutkan dua solusi bagi yang takut terhadap perbuatan zina. Kita tidak perlu berkebiri, karena itu akan merusak sistem organ yang dipunya. Maka rosululloh saw menganjurkan untuk berpuasa saja.
Pornografi yang dikenal dalam islam adalah zina, akan membawa kepada dosa yang besar. Dimana akan mendapatkan hukuman 100 dera di dunia. Islam sangat berusaha untuk menjaga umatnya agar tidak terjerumus ke dalam zina yang disebabkan oleh hawa nafsu yang terus menerus dituruti seperti menjadikannya sebagai tuhan. Jika demikian maka orang tersebut lebih sesat jalannya daripada hewan ternak. Islam memberi solusi untuk menjauhi zina yaitu dengan menundukan pandangan terhadap lawan jenis, atau dengan pernikahan yang syah, jika belum mampu secara finansial maupun mental maka islam menganjurkan untuk berpuasa. Karena dengan berpuasa ikut menjadikan hawa nafsu dapat dikendalikan. Hendaknya semua umat islam menutup auratnya agar tidak mengundang hawa nafsu untuk bangkit dan menggila.
Semoga dengan artikel ini, Indonesia tidak masuk kedalam nominasi negara dengan pengunduh dan penggugah terbesar video porno di dunia. Karena julukan pengunduh dan penggugah porno terbesar di dunia merupakan hal yang sangat memalukan bagi negara yang memiliki jumlah muslim terbesar di dunia ini.




Sumber:
Buku Muslimah Kehilangan Diri, Abu Ghifari, Mujahid Press, 2004 http://www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/33/151.bpkp
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/04/302900/265/114/Indonesia-Peringkat-Ke-1-Pengunduh-Pengunggah-Situs-Porno
http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia
http://tafsirayatquran.blogspot.com/2011/07/surat-al-israa-ayat-32.html 
Continue reading →

Labels