Selasa, September 25

Ada saat dimana semua akan menjauh dan menyalahkan

0 komentar

Namaku Elgad, umurku 17. Dari SD sampai saat ini aku selalu menjadi ketua kelas. Entah kenapa teman-temanku selalu memilihku untuk menjadi ketua kelas. Mungkin tidak ada teman-temanku yang lain yang mereka percayai menjadi seorang pemimpin kelas. Atau mungkin karena mereka ingin aku yang mendapatkan hukuman dari guru jika kelasku melakukan kesalahan. Karena ketua kelas memiliki tanggung jawab atas kelasnya, jadi saat guru tidak tahu siapa yang salah maka akan dia salahkan aku sebagai ketua kelas.
            Saat aku kelas enam sd, yang tahun depannya aku lulus dari sekolah sd ku yang asri penuh taman dan tumbuhan yang rindang. Disana sini lingkungan bersih. Tentu saja bersih, karena kepala sekolah kami sangat peduli terhadap kebersihan. Bahkan saat pertama kali dia menjadi kepala sekolah, hal yang pertama dia lakukan adalah mengajak siswa untuk menjadikan sekolah SD sebagai green school atau sekolah hijau, dan hampir saja kawan-kawanku menjadikan sekolahku benar-benar hijau semua. Kasus ini bermula saat hari ulang tahun temanku Rami. Temanku yang lain seperti Dafa, Faruh dan Dela merencanakan sesuatu untuk ulang tahun temanku ke sebelas untuk Rami.
            “Hoi, hari ini Rami ulang tahun. Coba cek di facebooknya deh”. Celetuk Dafa asal.
            “Mau kita apain nih”. Dengan senyum jail Faruh menimpali asal juga.
            “Kita jadiin dia kaya pahlawan super dari Marvell”. Jawab Dela dengan asal juga.
            “Pahlawan super apaan yang dari Marvell? Gatot kaca?”.Timpalku ikutan asal.
            “Gatot kaca mah Marwa, Manusia kekar jawa”. Semakin asal Faruh menjawab.
            “Yeh kamu mah”. Responku yang asal keluar juga. Tanpa pikir panjang lagi, aku pergi meninggalkan percakapan yang asal ini. Khawatir akan menghasilkan keputusan yang asal juga. Aku menoleh ke belakang tempat tadi, tempat dimana tiga bocah bercakap asal. Ketiganya langsung mengerubung menjadai satu, menjinjitkan kaki mereka untuk dapat saling mendekatkan kepala mereka ke tengah meja yang besar.
            Siang itu juga, selepas pulang sekolah. Seperti biasa aku pulang terakhir menunggu teman-temanku pulang duluan. Rami masih duduk di samping mejaku, membereskan peralatan sekolah yang dia bawa. Terdengar olehku bisik-bisik dari bangku belakang. Sudah kuduga itu tiga bocah tadi yang bercakap asal.
            “Apa yang kalian lakukan dibelakang sana. Kalian belum pulang”. Tanyaku menerawang yang mereka lakukan.
            “Kita lagi punya rencana ni, yang lain pasti nyesel pulang duluan, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu dari Marvell”. Jawaban Dela yang cukup tidak asal. Aku hanya mengangkat alisku dan menarik nafas panjang. Terheran apa yang akan dilakukan anak-anak dua belas tahun itu.
            “Elgad, aku pulang duluan ya”. Sapa Rami. Aku hanya tersenyum tanda mengiyakan. Ruangan kelas telah sepi, hanya suara angin sepoi-sepoi yang terdengar bergerak melalui celah jendela. Aku ikut keluar dari kelas, tugasku sebagai ketua kelas telah selesai untuk hari ini.
            “OAAAaaaauAauauAuuauU...”.Tiba-tiba suara teriakan histeris terdengar. Yang kukenal itu suara Rami. Aku rasa tiga bocah tadi sedang beraksi. Aku keluar kelas, lalu memandang sekitar. Aku mendelik ke samping. Tembok sekolah menjadi punya motif baru. Motif hijau, dengan corak yang asal. Rupanya kedatangan pahlawan Marvell harus dengan tembok bercorak hijau. Sungguh merepotkan.
            Aku langkahkan kakiku lebih jauh menuju lapangan sekolah. Semakin terdengar suara gelak tawa para bocah. Dari tempatku berdiri aku melihat sesosok makhluk setinggi tubuhku, penuh cairan berwarna hijau. Berlari menuju kawan-kawanku yang terus tertawa. Tercium bau pandan menusuk saraf hidungku. Aku tahu, itu siapa. Itu pahlawan dari marvell yang terkenal, Buto Ijo. Aku langsung berlari menuju teman-temanku yang asyik tertawa. Aku ikut tersenyum atas teman-temanku.
Aku tahu itu Rami yang dijadikan Buto Ijo oleh teman-temanku. Aku panggil si Rami dengan nama itu.
“Hai Buto Ijo”. Ceplosku ke arah Rami. Tiba-tiba semua orang  mendadak terdiam, dengan wajah melongo. Termasuk tiga bocah tadi  dan aku ikut ekspresi mereka. Mereka memandangku sejenak kemudian mereka kembali tertawa dan lebih keras dari sebelumnya. Aku ingin ikut tertawa, namun bingung apa yang harus aku tertawakan. Kini semua memandang padaku dengan tawa mereka.
“Mana ada buto ijo dari Marvell”.
“Oh gitu ya, lalu apa maksud kamu pahlawan marvell itu?”.
“Itu Hulk namanya”. Jawab Rami yang ikut senang terhadap perayaan ulang tahunnya. Walaupun baju putih merahnya menjadi hijau.
“Ehmm, siapa yang bertanggung jawab atas berubahnya warna tembok ini”. Suara yang terdengar berat terdengar samar-samar diatas tertawaan kami. Semua langsung hening sunyi. Menoleh ke arah kanan yang sudah berdiri tegak bapak kepala sekolah.
“Biasanya ketua kelas pa”. Seorang siswa nyeletuk.
“Elgad, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?”. Aku hanya  mengalah, lalu menjelaskan secara detail kejadiannya, ditemani tiga bocah asal tadi.
Keesokan paginya, sekolahku sudah benar-benar hijau. Entah kenapa tembok sekolahku menjadi hijau. Aku tak disalahkan atas kesalahan kemarin. Yes. (To be Continued)