Selasa, Oktober 27

Bertemu Komunitas Sosial

1 komentar
Ini draft udah ada sejak lebih dari setahun lalu, saat saya masih "Fresh" jadi panitia ishare, sayang kalo ga dipublikasiin. wkwk selamat baca :)

Bareng BPH dan kadiv Ishare (IPB Social and Health Care) 2015, saya bersilaturahmi dengan komunitas sosial pendidikan di Bogor. Menemui anak-anak kecil yang sedang dididik oleh pemuda dan pemudi penerus perjuangan bangsa. Banyak hal yang layak diambil dari berbagai komunitas yang saya temui.  Bukan hanya soal pengabdian saja, melainkan soal konsistensi dan istiqomah. Banyak mahasiswa yang memiliki semangat membara saat diawal namun ciut bak undur-undur ditelan pasir saat diakhir melakukan kegiatan sosial ini.

Contohnya adalah Taman Hijau Ceria (THC) yang kini memiliki tempat di wilayah Ciawi. Beliau bertutur bahwa relawan yang ada terus berkurang. Dikarenakan kaderisasi yang kurang serta para pendiri ada beberapa yang tidak komitmen terhadap komunitas yang sudah berdiri. Tentu alasan terkuat adalah karena komunitas ini tidak menggaji seperti tempat kerja yang sudah ada sekarang. So, saya pikir orang-orang yang berjuang di ranah sosial ini adalah manusia-manusia tangguh masa kini yang rela tidak dibayar demi memerdekakan bangsa dari kebodohan dan ketidakadlilan. Sedangkan manusia tangguh masa lampau adalah para pejuang bangsa yang tidak dibayar demi memerdekakan bangsanya dari para penjajah. Beda tipis!!!

Saya yang dulu sama seakali tidak menyentuh ranah sosial ini secara langsung, akhirnya tahu bahwa banyak pejuang disini yang berusaha memperbaiki sistem yang rusak. Senang karena bisa bertemu para pejuang, tapi miris mengetahui soal keadaan yang masih serba kurang di negara yang sudah merdeka 69 tahun ini. Anak-anak yang saya temui memang cenderung memiliki semangat belajar tinggi, masalah sosial mereka tidak terlalu mengkhawatirkan seperti di ibukota kita. Ketua Ishare tahun ini bertutur pada saya bahwa kondisi anak-anak yang sedang dididik di komunitas di Jakarta memiliki keadaan yang buruk. "Nyimeng" saat belajar adalah suatu hal yang biasa. Perkataan yang sangat tidak elegan merupakan warna-warna yang keluar dari mulut mereka setiap hari. Oh tuhan, karma apa yang terjadi pada negeri ini.

Keadaan saya yang serba disyukuri ini  terkadang menutupi banyak peristiwa yang bertolak belakang dengan kehidupan saya. Membuat saya buta walaupun mata ini sehat, tuli walaupun telinga saya normal dan bisu walaupun lidah saya tajam. Indonesia patut bersyukur karena ibu-ibunya masih melahirkan pejuang-pejuang sosial yang akan membantu dan mengantarkan individu yang kurang menjadi tidak kurang. Saya salut karena dengan kegiatan ini bisa mengubah hal yang buruk menjadi indah.

Lalu bagaimana kalau memang tidak suka terhadap hal seperti ini?

Hati nurani manusia mana yang ga merinding atau sakit melihat manusia tidak dimanusiakan?

Saya yakin setiap dari kamu merasa miris saat melihat keluar jendela ketika naik KRL menuju Tanah Abang dari tanah Bogor. Makhluk yang berakal yang memiliki naluri serta merasai, hidup dalam keterbatasan ruang dan sumberdaya. Padahal mereka yang mendapatkan hal sangat "terbatas" itu, punya hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dari negara, lagi-lagi negara!!! Jadi ingat lagi deh pembukaan UUD 1945 nya.

(to be continued)



One Response so far

  1. Hai laaang ! Nice post .
    Entah kenapa baca ini jadi kangen ishare :')
    Anyway, Semangat mengabdi itu menular ternyata ya hehe ...