Selasa, Juli 3

Pas-pasan ke Gunung Ciremai? Siapa takut…

0 komentar
Kronologi
            Akhirnya setelah sekian lama berkeinginan untuk hiking ke gunung ciremai, pada hari sabtu 30 Juni  aku bisa melaksanakan keinginan tersebut.
            Ayah mengajak temannya yaitu mang Tobing untuk ikut dan menjadi sebagai penunjuk jalan bagi kami untuk melakukan perjalanan menuju puncak ciremai. Dia merupakan orang yang handal dalam masalah hiking. Telah sering dia ke gunung ciremai dan telah banyak pengalaman hiking di gunung-gunung yang lain.
            Rencananya aku akan mengajak temanku yang lain untuk ikut serta dalam pendakian ini. Namun, karena rencana ini terlalu mendadak jadi tidak ada teman yang ikut pendakian. Akhirnya hanya aku, ayahku dan mang tobing yang melakukan pendakian ini.
            Sebelum hari sabtu kami melakukan persiapan barang-barang yang diperlukan untuk pergi mendaki gunung  Ciremai menurut sepengetahuanku.  Aku membawa 6 bungkus nasi,  wafer, air tiga liter untuk aku sendiri, ayam goreng untuk makan, kopi, senter, baju hangat (syal, kaos kaki, sapu tangan, jaket, baju dan celana berlapis-lapis, sandal gunung), mie instant, paraffin, tas, gasolin, handphone kesayangan,  sendok, gelas dan  permen juga uang.
            Hari sabtu itu merupakan hari untuk adikku pertama kali masuk sekolah smp barunya yang dulu merupakan sekolahku. Sekolah itu terletak di Kuningan. Aku dan ayahku mengantar adikku terlebih dahulu ke Kuningan. Setelah jam satu siang kami pun kembali pulang ke rumah. Kami tiba di rumah pada pukul setengah tiga. Saat mobil tiba, mang Tobing datang dengan perlengkapannya. Aku dan ayahku langsung bersiap-siap. Rencananya kami berangkat  pada jam dua siang, dan molor sampai jam setengah empat sore. Kami meninggalkan rumah dengan naik motor menuju desa Apuy yang terletak di kecamatan Maja kabupaten Majalengka. Kami melewati jalanan yang terus menanjak. Kami berhenti di sebuah rumah warga yang ternyata sudah kenal dengan mang Tobing sejak mang Tobing masih SMP.  Kami menitipkan motor di rumah ini. Setelah sejenak kami  beristirahat dari perjalanan selama 30 menit dari rumah, kami memulai pendakian menuju Puncak pada pukul setengah lima sore. Di perjalanan aku tidak memakai baju hangat terlebih dahulu, karena perjalanan menuju pos pertama, udara dingin belum terasa.
            Rencananya jika kami telah sampai di pos 1 pada jam setengah enam sore kemudian beristirahat, lalu dilanjutkan ke pos selanjutnya pada jam enam sore. Maka kami akan tiba di puncak dan dapat melihat matahari terbit. Namun, ternyata rencana tidak sesuai. Kami banyak melakukan pemberhentian di tengah jalan Karena ayahku kecapean sehingga perjalanan kami lebih banyak memakan waktu. Akhirnya kami tiba di pos satu pada jam enam lebih. Aku kira di pos satu ada warung untuk bisa kami membeli perlengkapan yang kurang seperti air yang seharusnya minimal empat liter satu orang. Namun ternyata tidak ada. Walaupun begitu kata mang tobing kami sedang beristirahat di pos yang paling nyaman, karena terdapat tempat yang beratap. Di pos lain, jangan harap menemukan atap.
Kami  langsung memakai baju hangat setelah sebelumnya kami kepanasan dan kini langsung kedinginan. Aku dan ayahku makan sore dan kami bertiga memasak air untuk kami minum minuman hangat. Saat memasak aku mengambil bagian yang paling dekat dengan api, untuk menghangatkan tanganku yang sudah sangat kedinginan seperti masuk kedalam kubangan es batu. Kata mang Tobing biasanya pada malam minggu seperti ini banyak orang yang akan pergi ke puncak. Biasanya mereka baru berangkat pada pukul enam sore dari desa Apuy. Kami pun menunggu agar nanti bisa bersama-sama, tidak hanya bertiga seperti ini. Sampai jam setengah Sembilan kami menunggu dan tidak ada yang datang ke pos satu. Kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke pos dua dengan hanya bertiga.
Jarak setiap pos adalah dua ratus meter diukur secara datar. Namun jika diukur dari pangjangnya jalan yang harus kami tempuh, maka jaraknya akan berbeda (ingat segitiga siku2, sisi miring dengan sisi datarnya).
Senter telah kami nyalakan dari sebelum tepat ke pos satu. Jalan yang kami lewati menuju pos dua, menanjak dengan beberapa akar pohon membentuk tangga untuk ke atas. Di perjalanan seperti sebelumnya, kami banyak melakukan pemberhentian. Aku selalu jalan paling belakang. Padahal, Ayahku dulu pernah mendaki gunung ciremai saat dia SMA, namun hanya sampai pos 5. Di pos lima ayahku dan lainnya (mang tobing juga ikut), tidur dengan enak sambil kehujanan. Mereka mengaku tidak kedinginan, namun sekarang tidak kehujanan pun aku dan ayahku sudah menggigil. Ayahku sudah berumur 49 tahun dan sudah tidak muda lagi, sehingga mau tak mau aku harus ikut ayahku.
Jarak tempuh kami lebih jauh dari 200 meter, dan sangat  lama. Kami tiba di pos dua, dengan kaki yang sudah mulai pegal. Kami beristirahat dahulu. Kami langsung merebahkan tubuh kami di atas tanah, tanpa alas dan tenda. Ternyata tanahnya sangat dingin. Tubuh kami masih hangat karena berkeringat, sehingga mengurangi rasa dingin itu. Mang Tobing langsung bisa tidur dan ngorok. Namun aku dan ayahku tidak bisa tidur senyaman mang Tobing. Setelah beberapa lama dingin menyerang, aku tidak bisa tidur ayahku juga. Kami menyalakan dua paraffin untuk menghangatkan tubuh kami. Sangat nyaman jika kami bisa membawa tenda seperti sebelah kami. Di pos dua handphoneku masih bisa menerima sms dan aku menjawab smsnya walaupun tidak langsung terkirim. Sinyal di handphoneku kadang nol dan kadang berisi. Setelah sekitar jam setengah sebelas dan duakotak paraffin sudah habis, mang Tobing dibangunkan dengan tubuhnya yang langsung menggigil untuk melanjutkan perjalanan.
Menuju pos 3, awalnya sangat menggigil, namun karena kami terus jalan, sehingga rasa dingin itu perlahan hilang. Rumus untuk perjalanan di malam hari ini adalah segera tidur saat menemukan pos setelah melakukan perjalanan, lalu segera lanjutkan perjalanan jika badan sudah merasa menggigil. Jarak tempuh dari pos dua ketiga terasa tidak terlalu berat, karena kami sudah mulai beradaptasi.
Di pos tiga tidur beristirahat dan memasak mie instant serta menghangatkan tubuh. Dari pos tiga ke pos empat terasa tidak terlalu jauh dan lebih dekat dari pos dua ke pos satu. Di pos empat kami kembali beristirahat dan tidur. Di pos empat aku mendirikan salat maghrib dan isya. Sekarang sekitar jam tiga pagi. Di pos empat aku menerima telepon dari ibuku. Aku mempersingkat pembicaraan karena takut baterai hp-ku akan habis dan tidak bisa digunakan untuk mempotret pemandangan di perjalanan selanjutnya.
Kami melanjutkan perjalanan menuju pos lima. Perjalanan menuju pos lima sudah mulai terasa berat. Akar-akar pohon yang besar membentuk tangga yang kadang jarak satu dengan yang lainnya sangat tinggi. Kami harus berhati-hati, jalan masih sangat gelap. Suhu udara lebih rendah dan dingin. Perjalanan menuju pos lima ini lebih lama.
Akhirnya kami tiba di pos lima. Ternyata di pos lima kami bertemu dengan rombongan (lebih dari tiga orang) dari majalengka juga. Ada salah satu dari mereka yang kami kenal. Mereka membuat tenda seadanya dari kain dan daun serta dahan dan membuat api unggun. Mereka akan meninggalkan pos lima dan segera bergerak ke pos enam lalu ke puncak untuk menyaksikan matahari terbit. Sedangkan kami baru akan beristirahat di pos lima.
Di pos lima, sudah sekitar jam lima lebih sepuluh pagi. Kami beristirahat dan manghangatkan diri di dekat api unggun yang sungguh sangat menghangatkan kami. Pada pos ini hp-ku kembali menerima telepon dari ibuku. Dia kira kami sudah sampai ke puncak. Karena dulu ibuku juga pernah ke Ciremai sampai puncak dan melihat matahari terbit saat dia SMA. Di pos ini aku mendirikan salat subuh. Lalu memasak air yang pas-pasan dan meminum minuman yang hangat dan menyamankan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju pos ke enam. Jalan yang kami tempuh ternyata sudah sangat menanjak. Dengan kemiringan sekitar 60 derajat sampai 90 derajat. Di tengah perjalanan kami menemukan bunga yang terkenal yaitu bunga edelwis the flower of eternity, begitu orang banyak menyebutnya. Karena jika bunganya dicabut, bunga itu tidak langsung layu dan dapat mekar sampai beberapa waktu kemudian, sehingga jika dipetik dan dibawa ke rumah, bunganya tidak langsung jelek. Bunganya kecil berdiameter sekitar diameter pensil, namun lebih kecil. Berwarna kuning jika sudah mekar dan berwarna putih jika belum mekar bunganya. Daunnya seperti jarum. Dibawah tangkai bunga sebelum  daun hijau terdapat dahan yang coklat dan daun yang mati. Pada dahan itu mudah untuk di petik.  Jika bunga itu dikumpulan menjadi satu akan terlihat indah.
Kami tiba di pos enam pada jam delapan pagi. Di pos enam merupakan pertigaan antar jalur ke puncak dari palutungan (Kuningan) dan dari Apuy (Majalengka). Sebenarnya menurut warga Majalengka, jalan dari Apuy lebih dekat daripada dari Kuningan. Di pos enam yang sudah +2500 meter diatas permukaan laut, aku mendapatkan sms dari ibuku agar ayah istirahat saja di pos dan aku bersama mang Tobing saja yang melanjutkan sampai puncak sana dan melihat kawah.
Akhirnya ayah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai puncak. Namun ayah tidak istirahat di pos enam, melainkan istirahat tepat diatas Goa wallet. Goa yang biasa orang berkemah. Di atas goa ini ternyata terdapat kebun edelwis (aku menyebutnya begitu), karena banyak sekali tanaman bunga ini. Beruntung aku berangkat pada bulan ini, karena tanaman ini sedang banyak berbunga sehingga terlihat indah pemandangan disini.
Aku melanjutkan perjalanan mendaki menuju puncak. Sedangkan pendaki lain sudah mulai turun dari puncak, karena hari sudah mulai siang. Aku jalan duluan, dibelakangku mang Tobing. Medan yang ditempuh, lebih berat dari sebelumnya. Hampir aku tidak melihat tanah. Yang ada hanya batu dan pasir. Aku mencari-cari jalan yang terbaik yang bisa aku lewati. Batu-batu disana sanatlah besar. Akhirnya aku sampai di puncak. melihat kawah.
Sendirian, karena yang lain sudah semuanya turun gunung. Mang Tobing menyusulku kemudian. Angin yang begitu kencang hampir saja membuat ku terhjatuh. Bulan ini adalah musim halodo (Sunda : kemarau) sehingga lebih banyak angin yang berhembus. Aku melihat awan yang bagaikan busa-busa. Lebih indah dibandingkan dari hanya melihat dari pos enam. Dari sini juga aku bisa melihat puncak-puncak gunung lain yang terdapat di pulau jawa. Seperti gunung Slamet dan Gunung Tampomas.
Setelah puas, aku langsung turun ke bawah. Makan nasi dan mie yang dicampur. Sangat membantu, karena kami sudah kelaparan. Di atas goa wallet yang +2900 mdpl ini, aku kembali menerima telepon dari ibuku. Terkadang kami bingung, kenapa handphne ku masih bisa melakukan hubungan padahal jauh dari menara telepon. Saat baterai hapeku mati, aku memindahkan nomor SIM ku ke hape ayah yang masih ada baterai cadangannya. Namun, ternyata di hape ayah, tidak bisa menerima telepon dan sinyalpun kosong terus. Mungkin ini disebabkan dari jenis hapenya juga. Handphoneku adadalah Sony Ericsson w580i yang sudah aku miliki sejak kelas dua SMP. Dan akhirnya Aku, ayah, dan mang Tobing kembali ke desa Apuy dengan badan yang sudah pegal-pegal.

Kesan dan Pesan
Pendakian menuju gunung ciremai dengan sangat kurang persiapan ini cukup menyenangkan dan sangat menantang. Perlu kesabaran dan keikhlasan menghadapi semua keputusasaan.
Sebaiknya jika menginginkan pendakian ini sebagai pengisi liburan yang benar-benar menghibur, bawalah perlengkapan yang memadai. Berikut barang-barang yang diperlukan saat melakukan pendakian selama satu malam saja. Lebih baik lagi jika peralatannya tersebut memang dibuat untuk melakukan hiking.
  1.  Perlengkapan Baju hangat (kaos kaki berlapis-lapis, Penutup kepala, sarung tangan berlapis, jaket yang tebal, masker hangat, celana panjang berlapis)
  2. Paraffin minimal 2 bungkus (16 kotak) untuk memasak dan menghangatkan diri
  3. Tas besar (Hiking)
  4.  Sepatu (Hiking)
  5.  Alas yang dari karet (tenda juga OK)
  6.  Alat memasak yang “simple”
  7.  Air minum minimal 4 Liter (3 botol minuman kemasan 1500 ml)
  8.  Obat-obatan, P3K
  9.  Kopi/ jahe/ susu/ yang lainnya yang bisa menghangatkan tubuh.
  10. Membawa mie instant, untuk mengisi kekosongan perut.
  11.   Boleh membawa nasi dari rumah, tapi jika sudah mencapai pos enam, nasi sudah dingin dan mengeras. Jika akan membawa beras, maka tambahkan paraffin paling tidak dua bungkus lagi untuk persiapan (3 kali makan). Juga tambahlah persediaan air. Sebenarnya sudah cukup makan nasi untuk dua kali ditambah mie lain waktu.
  12.  Handphone
  13.  DLL (yang mungkin merasa perlu untuk dibawa )

             Saat melakukan pendakian, jika sudah merasa lelah beristirahatlah terlebih dahulu. Keamanan lebih penting dari pada pencapaian target. Namun jangan bermanja-manja ria. Selalu mengingat allah saat melakukan perjalanan. Selalu membaca ayat kursi, surat al fallaq, al-ikhlas, an-naas dan silakan baca artinya lalu renungkan. Bertasbihlah, Hal ini membuat suasana hati lebih tenang, sehingga fisik pun tidak mengalami keputusasaan. Jangan ragu untuk salat dan bertayamum. Jika ingin memakai balsam untuk kaki, siap-siaplah merasa lebih dingin. Di perjalanan kita tidak menemui aliran air dari gunung (jika pada musim kemarau), saya pun tidak menemui tempat genangan air. Selalu berada dalam kelompok. Tetap ikuti aturan yang tertulis dan tidak tertulis saat melakukan pendakian. Tetap jaga lingkungan agar tetap bersih. Jangan tinggalkan sampah. Keajaiban akan selalu ada pada pendakian ini.
          Pada pendakian ini aku menemukan banyak hal yang menarik. Burung-burung yang cantik beterbangan kesanan kemari. Awan-awan yang begitu memikat hati untuk terjun ke dalamnya. Dahan pohon yang menghasilkan belokan seni yang keren dan inspiratif.
Mungkin aku akan kembali lagi ke gunung Ciremai dan turun ke kawah. Serta melakukan persiapan yang lebih mantap dan bersama kawan-kawan.
“Warisi anak cucu kita mata air, jangan warisi anak cucu kita air mata” wise word ini aku temukan di papan petunjuk gunung saat hendak ke pos lima.

Gunung Slamet Bisa terlihat dari sini
Perjalanan Turun meninggalkan Puncak
Awan Terlihat dari sini


Masak Air hangat di pos satu



Gundukan awan yang menawan

Kawah Gunung Ciremai

Pemandangan dari Atas Pucak

welcome to Edelwis Garden

Perjalanan Menuju post Enam

Pemandangan awan memang indah

Menuju pos satu

Mang Tobing dan Warga sekitar


Pemandangan ini belum Capai pucak

Yuk kita Turun Gunung
Ayah sedang Beristirahat