Tampilkan postingan dengan label Foranza Sillnova. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foranza Sillnova. Tampilkan semua postingan
Minggu, Agustus 10

For Foranza

0 komentar
“...untuk memperingati tahun baru Hiijriyah selama empat hari yang tanggalnya merah, kalian Libur, dan kalian boleh pulang kerumah...”. Sontak seisi mesjid ramai bersorak tertahan mendengar pengumuman yang disampaikan kepala sekolah. Sejenak setelah pengumuman, para siswa otomatis membentuk lingkaran masing-masing dengan sahabat mereka. Aku beranjak menuju serambi kiri mesjid, Ulum memanggil dan mengajakku.
“Jalan-jalan yuk”. Ulum mengajakku untuk liburan bersama. Secara sadar aku menjawab
“Ceremai!, oke deh,  gua bilang ortu dulu”. 
***
“Galang juga langsung ngerti Tas”. 
“Yaudah deh, kita langsung siapin aja”.
“Tapi jangan bilang-bilang siapa dulu, tar kalo ga jadi bisa memalukan”. Langsung kami menyusun strategi untuk menuju gunung tertinggi di  Jawa Barat. Bagiku ini akan menjadi perjalanan kedua kalinya. 
Di kamar salah satu gedung F, Retas menuliskan apa yang harus dibawa, jadwal dan apa yang harus dilakukan pada tanggal enam belas sampai kami kembali pada tanggal delapan belas November pada kampus Insan cendekia ORI.
Wajah serius, sedikit tawa dan diam-diam mewarnai rencana ini. Jadi beginilah rencananya. Kami akan meninggalkan MANICS sebelum salat jumat, pergi keluar dan menuju Minimarket terdekat untuk memesan tiket kereta menuju Cirebon, atau langsung ke Tanah Abang dan membeli peralatan. Lalu, pergi kerumahku yang ada di Majalengka sebelum malam tiba. Beristirahat sejenak lalu pada sore hari pergi menuju Desa Apuy, desa terakhir sebelum kami muncak. Aku kabarkan rencanaku itu pada kedua Ortuku. Awalnya mereka tak mengizinkanku, dengan lobi yang pas dan gaya seorang anak meminta pada Ortunya akhirnya aku diizinkan oleh mereka. Terimakasih ayah dan ibu tercinta. Namun dengan syarat ditemani oleh teman ayahku yang pernah menemaniku pergi muncak ke Ceremai yang pertama.  Ternyata eh ternyata, teman ayahku itu tidak bisa menemani, maka ayahku menyarankan porter untuk menemani kami menuju puncak Ceremai.
“Gak usah aja Gal, insya allah kita bisa kok”. Aku sampaikan perkataan itu pada kedua orang tuaku, dengan berat hati mereka mengizinkanku. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi.
Beberapa hari lagi kepulangan akan datang. Tiba-tiba ada kabar bahwa ketua angkatan cowo Foranza akan ikut serta dalam perjalanan ini. Rowi namanya. Sebelumnya dia memang mengajakku pergi ke gunung setelah Ulum memberitahuku, aku manggut saja dan sekarang dia fix akan ikut serta. Oke deh.
“Gua gak enakan sama yang lain, masa yang lain gak diajak”.
“Nanti aja deh, sekarang kan liburannya mepet, lagian yang lain juga udah punya rencan sendiri-sendiri”.
“Jaket, tas, senter, sarung tangan, kupluk...”. Kami mengeja peralatan yang disiapkan disini. Lalu yang kurang kami akan penuhi di tanah abang.
***
Pagi sebelum jam sepuluh, kami telah keluar kampus. Melangkahi ketentuan yang seharusnya setelah salat jumat. Ini harus dilakukan agar kami bisa mencapai tempat tujuan lebih cepat. 
Ke Minimarket terdekat, memesan tiket. 
“Ayo dek cepetan kalo mau mesen tiket”. Kasir memburui kami untuk cepat memberikan identitas. Kasir langsung mengetik apa yang kami sampaikan.
“Yaaaah, udah dipesan duluan sama Minimarket lain, maaf dek tiketnya habis”. Tiba-tiba sang kasir kecewa. Kamipun ikut kecewa.
“Kalo mau yang hari ini berangkatnya harus mesen langsung di stasiunnya”.
“Oh gitu ya mba, kalo yang ke sini dan tanggal ini ada ga....”. Retas membeli tiket lain untuk teman yang akan pulang di liburan semester satu. Banyak diantara teman-teman IC yang rumahnya di Jateng jauh dari BSD. Sehingga mereka menitipkan tiket menuju Kampungnya pada kami.
Dengan perasaan nekad harus sampai ke Majalengka, kami melanjutkan langsung ke tanah abang. Di Tanah Abang tiket untuk menuju Cirebon sudah habis, kata informan yang ada disana untuk jam satu siang. Kami berusaha mencari lagi untuk hari ini. Orang bilang kalo mau pesen tiket kereta ekonomi harus jauh-jauh hari. Sayang seribu sayang kami baru mengetahuinya.
Kami berusaha mencari tiket kereta menuju Cirebon. Ada!!! Tapi kereta eksekutif dan Mahal.Tapi ternyata masih Ada!!! Kereta Ekonomi berangkat pada pukul empat sore. Berarti akan menghapuskan rencana kami untuk bisa melihat sunrise di puncak.
“Berangkat jam empat nyampe jam setengah delapanan”.
“Yaudah, ga apa-apa deh”. Kami menerimanya, jikalau kami memakai bis, kami harus ke bekasi dulu dan akan memberi waktu lebih lama menuju Majalengka yang memakan sampai enam jam perjalanan.
Berempat kami berbelanja barang-barang yang diperlukan. Adzan jumat berkumandang. Kami akan salat jumat dahulu. Meleset, lalu Kami salat seperti biasa. Makan siang dan memenuhi perlatan yang diperlukan. Ceremai, kami datang.
Naik kereta pukul empat lebih, kebiasaan Indonesia. Rowi kami suruh untuk tidur di kereta, karena sebelumnya dia terlalu asik pada malam kemarin. Tiba di Cirebon pada pukul delapan malam lebih. Di stasiun Prujakan Ortuku telah menunggu, menjemput kami semua. Mereka memberiku kupluk bagus untukku keatas muncak. Kami pun pulang ke Majalengka selama sejam, makan di rumah makan langgananku saat aku pulang dari sekolah SMP ku yang berasrama.
Belanja di Tanah abang
Tiba dirumah, Majalengka. Ternyata ibu telah mempersiapkan semuanya, parafin, air minum, obat-obatan, nasi dan lauknya, nesting, dan semua yang diperlukan. Terimakasih ayah dan ibu tercinta sekali lagi. Retas, Ulum, Rowi dan aku beristirahat, mandi serta salat dan bersiap-siap sekali lagi.
Kami berangkat menuju desa Apuy. Ayah telah memesan mobil untuk kami menuju basecamp. Ternyata misskomunikasi. Sang sopir mengira kami akan berangkat besok pagi jam sepuluh. Tapi kami berencana jam sepuluh malam. Sedikit berdebat. Ayah memintaku untuk berangkat besok saja.
“Gak bisa yah, harus malam ini”. Aku sedikit membentaknya.
 Akhirnya kami membatalkan mobil pesanan yang telah membuat kami menunggu lama. Kami berangkat sendiri. Ayah tak tahu jalan, dan hampir tersesat. Sopir mobil tadi ternyata membuntuti kami, lalu mengarahkan kami menuju basecamp yang sebenarnya. Urusan pertama selesai. Mobil kuda yang ditumpangi kepanasan.
Di basecamp kami mendaftar dan menuliskan di buku tamu dengan “Foranza Sillnova”. Dari basecamp aku berpisah dengan ayah dan kakaku meminta didoakan agar selamat. Setelah itu Retas, Ulum, Rowi dan aku  menuju tempat start pendakian memakai mobil yang membantu kami tadi. 
“Seperti biasa sebelum para pendaki berangkat...kita datang disini untuk mengagumi alam yang diciptakan sang Pencipta, menyadari bahwa kita itu kecil dibandingkan dengan ciptaanNya dan kuasaNya...”. Retas memuqodimahi kami sebelum berangkat. Lalu memanjatkan doa dengan khusyu ditemani oleh angin malam dan kesunyiannya. Pemanasan agar labih enak, dan tos bersama “We R One –For Foranza- We R Here –For Foranza- Foranza –Sillnova-”. Menggema membuyarkan kesunyian yang menetap.
“Bismillahirahmanirahim, kita berangkat”. Jam satu malam kurang, dengan langkah yang pasti kami berjalan menyusuri jalan-jalan yang telah ada dan terbentuk setapak. Alang-alang menyambut kami dengan belaian mereka yang kasar menyentuh kulit. Membuat kami harus berhati-hati kalau-kalau belaian mereka terlalu kasar dan akan melukai.
Jalur yang kami lewati, aku sadari pernah aku datangi. Perjalanan kami terasa lama menuju pos satu. Aku cepat mengharapkan pos satu, satu-satunya pos yang aku datangi dulu yang memiliki atap dan tempat berteduh alias saung. Rencananya di pos itu aku akan melapisi pakaianku agar lebih hangat. Retas dan Rowi, tak nyaman dengan alas mereka yang memakai sendal biasa. Sehinggga mereka berdua mendesain sandalanya agar nyaman dipakai. Namun ternyata sendal Retas tak begitu nyaman dipakai, dia mencopot sendalnya dan tidak beralas kaki. Itu lebih nyaman baginya. Naik naik dan turun kami lewati, tanah yang basah membuat kaki-kaki mudah untuk kedinginan. Embun yang menempel di rumput mendukung tanah coklat untuk mendingini kaki-kaki kami-kami.
Akhirnya kami tiba di tempat saung seperti dulu di pos satu saat aku pertama kali mendaki Ceremai. Kami menaiki tiga anak tangga, lalu duduk di saung itu. Ngaso sebentar.
“Kita istirahat dulu sebentar disini”.
“Baru segini doang kok udah capek ya”. 
“Gara-gara dari Serpong langsung naek sih, di kereta juga lama”.
Kami membuka sebagian biskuit yang kami bawa, memakannya bersama. Hawa dingin terkalahkan oleh hangatnya persahabatan diantara anak manusia. Malam ini sepi, tak ada pendaki lain yang kami temui. Sunyi, di buku tamu saat di basecamp hanya ada satu dua rombongan yang berangkat selain kami. 
Melanjutkan perjalanan dengan lebih pasti. Aku mencari arah untuk melanjutkan perjalanan. Seingatku setelah pos satu ada petunjuk arah yang menempel di pohon menunjukan jalur selanjutnya yang harus kami tempuh. Aku cari-cari ternyata tidak ada. Mungkin sudah dicopot oleh yang lain. Kami meneruskan jalur setapak yang kami ikuti sejak awal. Harapku pada pos dua telah di depan mata.
Setelah beberapa lama.
“Tas, ada sarang laba-laba kena gue deh”. Rowi yang memimpin di depan mengabari hal yang janggal itu.
“Kok ada ya? Seharusnyakan gak ada, dua rombongan udah duluan berangkat sebelum kita”. Aku bertanya-tanya.
“Emang banyak kok Wi, gua juga kena terus dari tadi sebelum pos satu nih”. Ulum menimpali.
“Yaudah deh lanjutin aja dulu”. Akhirnya kami banyak menerobos sarang laba-laba yang menempel di kanan kiri samping kami. Terus melangkah, mengikuti jalan setapak yang memiliki semen buatan manusia.
“Sebentar!!! ada sarang laba-laba lagi  halangi jalan”. Sarang itu tersambung menjembatani dua daun yang terpisahkan oleh jalan setapak. Masih rapih, dan tidak terlihat sedikitpun cacat mewarnai sarang itu. Mungkin rombongan yang lewat sini jalannya menunduk dan tidak merusak.
Sarang Laba-laba yang ditengah jalan
“Gimana nih Tas? Kita lanjutin ga, kayaknya gak ada orang yang lewat sini sebelumnya”. Aku khawatir.
“Tau ni Gal, allah mengizinkan kita apa engga mendaki gunung in?”. Semua terdiam sejenak, berpikir dalam otaknya masing-masing. Mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
“Mmmmm... kita lanjutin dulu dan terobos sarangnya. Mungkin didepan kita gak ketemu lagi”. Rowi langsung menerobos sarang laba-laba yang menghalangi jalan kami.
“Maaf ya laba-laba”. Rowi menyingkirkan dengan perlahan sarang yang telah dibangun laba-laba itu.
“Mungkin laba-laba buat sarangnya cepet banget kali Cuma semalem kurang”.
Terus jalan, ditengah dinginnya hawa Ceremai yang terkalahkan oleh hangatnya keringat-keringat yang keluar dari pori-pori. Keringat yang telah keluar akan terasa dingin. Aku  rasa kostumku yang telah berlapis itu salah. Menghambat perjalananku karena kepanasan. Melewati pertigaan yang tidak aku sadari keberadaannya.
Ditengah perjalanan kami menemui  kembali sarang laba-laba yang lain. Lebih rapih dan menutup jalan. Dari atas sampai bawah. Tidak mungkin orang bisa menunduk melewatinya, karena pasti akan mengenai sarang laba-laba itu.
“Gimana ni?”.
“Kita balik lagi aja, cek pertigaan yang kita lewati tadi”. Dipertigaan itu terlihat tanda panah. Menuju puncak dan menuju apuy. Kami mencoba ke jalan yang lain. Ternyata jalannya menurun. Lebih tertutup oleh semak-semak dan dahan pohon. Kami ragu itu jalan yang benar. Kami bolak balik dengan ragu.
“Bismillahirahmanirahim aja deh, kita lewatin sarang laba-laba tadi”.
“Oke deh, maaf lagi ya laba-laba”. Kami melanjutkan perjalanan. Bercakap-cakap tentang perjalan ini. Terkadang bercanda membicarakan kisah orang yang diputar-putar perjalanannya sehingga tak mencapai tujuan. Tiba-tiba...
“Loh kok ada saung lagi? Pos satu lagi ya?”. Aku sedikit terkejut. Melihat dan memperhatikan ternyata sama. Ada saungnya, persis seperti waktu aku mendatangi pos satu saat pertama kali.
“Beneran lo Lum?...Gal, Cuma pos satu yang ada saungnya kan?”. Retas bertanya padaku yang lebih tau kondisi.
“Iya jeh, pas pertama kali ke Ceremai, gua Cuma nemuin satu saung doang”. Kawan yang lain deg-degan. Khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami terus mendatangi saung itu, mendekat dan terus mendekat. Mencoba menentang perasaan khawatir kami.
“Eh, tapi ini bukan saung yang tadi deh, soalnya gak ada tangganya”. Beberapa meter sebelum sampai saung, Ulum mengabarkan situasi yang terjadi.
“Oiya, emang beda”. Aku perhatikan lagi dengan seksama. Ternyata inilah pos satu yang sebenarnya. Ada bacaan pos satu. Saung tadi bukan pos satu. Ternyata ketika aku pertama kali ke Ceremai aku melewati jalan yang berbeda dari kali ini. Sial, malam menghalangiku untuk mengingat-ingat.
“Langsung evaluasi, apa aja kesalahan kita kemarin, biar gak ada beban”. Serempak berempat duduk disaung itu, saung yang sangat mirip dari saung sebelumnya, dengan semen menopang empat tiang kayu. Saung itu cukup diduduki oleh dua puluhan orang. Tidak lesehan, tapi duduk.
“Kayaknya gak ngajak-ngajak yang lain jadi karma”.
“Bisa jadi, kirim sms Tas ke anak-anak. Minta maaf dan doa”. Handphone yang kami harap ada sinyalnya kami coba manfaatkan. Retas ketik kalimat yang panjang dan penuh pengharapan  mendapatkan maaf dari teman-teman kami yang kami rasa telah kami lukai. Meminta doa mereka.
“kirim ke siapa nih...”.
“Ke anak-anak yang suka OL malem-malem”.
“Ok deh...”. Kami mencoba mengirim, namun belum ada laporan delivered. Kami bernafas, beristirahat, mengingat kesalahan kami tadi siang, tadi pagi, tadi sore. Oh ya, aku sempat membentak ayahku sebelum berangkat, astaghfirullah. Ada yang lupa ini dan itu, uang kembalian yang salah, dan yang paling kami sesali, menyembunyikan rencana perjalanan ini pada teman-teman kami yang telah dua tahun hidup bersama berasrama, telat salat. Oh banyak ya.
Perjalanan kami lanjutkan. Trek pos satu ke pos dua adalah yang paling berat. Terus menanjak dengan tanah dan akar membentuk tangga-tangga yang cukup tinggi. Mudah membuat kami merasa capek dan pegal dengan harus mengangkat tubuh kami lebih tinggi dari biasanya. Ilalang-ilalang mulai tergantikan oleh pohon-pohon tinggi yang tua. Tak ada pemandangan karena gelap. Kami di dalam hutan hujan daerah tropis Indonesia. Hanya berempat melewati tengah-tengah hutan belantara ini.
Pos dua kami lewati. Tenaga yang mulai hilang, rasa lelah yang sangt terasa. Fajar sudah hampir terbit. Rencana melihat sunrise benar-benar pudar. Tak mungkin kami menuju pos tujuh pos terakhhir di puncak dalam waktu dua jam, dengan kondisi yang kecapean dari perjalanan Serpong ke Majalengka. 
“Istirahat sebentar, habis itu pos tiga kita makan mie dulu, di pos empat kita tidur empat puluh lima menit terus salat subuh”.
Langsung kami menuju pos tiga, perjalanan yang sedikit lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Perjalanan yang lebih pendek dan sebentar dari sebelumnya. Lampu senter menerangi jalan setapak yang dilewati. Bintang mengiringi jalan menuju puncak Ceremai, angin dingin nan sepoi-sepoi tak mau kalah menemani kami hingga puncak nanti. Sampailah kami di pos tiga dengan selamat. Langsung saja semua menurunkan tas yang dibawanya, membuka tas dan mengambil mie yang telah dibawa. Ada nasi timbel juga yang telah ibu persiapkan untuk ini semua. Kami memasak mie ala kami dan sedikit nmemberi kami energi baru.
Masak Mie
Retas berjalan sedikit perlahan, mencoba berjalan dengan tanpa alas. Nyaman, namun harus hati-hati karena tanah yang keras dan licin. Perjalanan menuju pos empat, energi sudah terisi namun pegal-pegal di kaki masih terasa. Jalan-jalan kami di tanah abang, dan perjalanan selama empat jam di kendaraan cukup membuat kami merasa pegal dan energi pergi menghilang dari badan kami.
Pos empat tiba.
“Semuanya langsung tidur aja, biar gak kedinginan”. Semua langsung menurunkan tasnya. Aku langsung duduk dan berbaring, diatas tanah yang tidak kalah dingin dengan udara sekitar. Kami harus langsung tidur selama tubuh kami masih hangat karena  perjalanan. Tak sampai sepuluh menit, alam kembali sunyi dengan dengkuran tidur orang kecapean.
Sejam telah berlalu, rencana kami terlewat lima belas menit. Tidak langsung menunaikan salat subuh. Kami harus berjalan terlebih dahulu untuk mengusir rasa dingin yang membuat tubuhku menggigil. Jalan sebentar dan rasa dingin pun pergi. Aku dan lainnya salat subuh berjamaah dengan tayamum. Dalam kesunyian alam yang dingin, salat subuh begitu nyaman. Sujud menyentuh tanah dingin yang kelak akan menemaniku sendiri. Tetesan hangat dari mata terasa nikmat bersahaja. Begitu terasa dekat antara aku dan tuhanku. Walaupun tanah yang kusujudi miring dan tidak mendatar, tidak mengurangi kekhusyuan salat yang kami dirikan.
Salam kiri menutup salat subuh, tak lama kemudian aku dan kawanku beranjak melanjutkan pendakian. Satu langkah demi satu langkah, hembusan demi hembusan, hentakan demi hentakan, mewarnai jalan dan pendakian. Akar-akar benar-benar membentuk tangga yang rapi. Cocok membuat kami pegal dan lelah. Pohon besar menaungi kami dengan daunnya yang banyak. Sebentar berhenti, mencari pemandangan yang bisa kami dapatkan. Semua hijau oleh daun, dan coklat oleh batang. Sedikit berkabut.
Di pos lima, matahari telah benar-benar melebarkan sinarnya ke penjuru Ceremai. Kami istirahat sejenak, melahap sebagian perbekalan yang kami bawa. Mengeluarkan sebagian bawaan yang tidak diperlukan untuk naik ke puncak. Menyimpannya dengan rapi dan menutupinya. Aku dan kawanku melanjutkan dengan hanya membawa sebagian minum dan makanan.
Naik dan mulai naik. Menanjak dan terus menanjak. Akar dan tanah mulai tergantikan oleh batu besar dan sedikit pasir. Bunga keabadian edelwis mulai terlihat di ketinggian dua ribu tujuh ratus meter diatas permukaan laut. Tengok kanan dan kiri, daun-daun pohon sangat minim. Hanya batang pohon yang coklat dan terlihat rapuh, kurus. 
Edelwis
Edelwis yang Mneguning
“Edelwisnya banyak banget”. Terkesima dengan kumpulan edelwis.
“Nanti habis pos enam naik dikit, ada kebun edelwis. Kalo bulan juli agustus bunganya lagi banyak mekar”. Aku menrangkan dengan sok tau. Edelwis kini yang kami lihat, kuning bunganya. Saat dulu aku pertama kali kesini berwarna putih dan indah.
“Petik boleh gak”.
“Gak boleh!, inget!!! take nothing but picture”.
“Ada lagi selain picture, SAMPAH”.
“Ya, itu juga boleh”.
Pos enam sampai, naik sedikit. Kumpulan edelwis telah menunggu kami. Menyambut kedatangan kami. Hai the flower of eternity. Sebentar istirahat.
Lanjut, kami jalan menuju pucak yang tinggal beberapa meter lagi di depan kami. Semua batu dan batu, mendaki dan memanjat batu. Hari yang sangat cerah, tak ada awan hitam dan gelap. Langit terlihat biru. Angin dipuncak menyentuh pakaian dan menembusnya, tidak dingin, karena sang surya telah menghangatkan aku dan kawanku. Menapaki batu demi batu, tangan yang menggengam erat, tidak terasa lelah. Tujuan sudah di depan mata, dan akhirnya kaki ini menginjakan Ceremai untuk yang kedua kalinya. 
“WOOOOO.... PUNCAAAAAAAAAAAAAAKkk”. Teriakan yang menggelegar, membuang rasa lelah dan cape saat perjalanan.
“HUH...”.
“Akhirnya kita sampai puncak, alhamdulillah”.
“Kibarin benderanya”. Ulum mengeluarkan bendera berwarna hijau, dengan lambang Foranza ditengahnya yang berwarna putih. Kami kibarkan, bendera yang Ulum buat sendiri. Tertiup angin.
Kibarin Benderanya
“Huh, kita berhasil. Mengisi liburan yang Cuma tiga hari, dipake buat naik Ceremai”.
Semua senang, aku memandangi sekelilingku, langit, puncak gunung lain, awan. Melihat ke bawah terlihat kumpulan awan. Membentuk seperti ombak di lautan. Langit biru, hawa yang tenang. Angin yang dingin. 
Kami bertemu dengan pendaki lain, berasal dari salah satu universitas. 
Kawah Ceremai yang bersahabat. Sedikit mengeluarkan asap belerang. Luas dan cekung membentuk mangkuk. Namun jika aku meloncat ke dalamnya akan celakalah aku. Kami makan dan membuka perbekalan kami. Tidak lupa kacang yang akan menemani obrolan kami di puncak tertinggi di jawa barat ini. Tiga ribu tujuh puluh delapan meter diatas permukaan laut. Mengambil gambar dan foto sebagai saksi bisu dan kenangan abadi.
Kawah Ciremai

Jaket Foranza
“Habis ini foranza ajak semua ke sini”.
“Memangnya mau semua dan kuat???”.
Setelah puas ngacang, dan berfoto dengan gaya masing-masing, kami kembali turun ke bawah. Dengan sedikit berlari, melewati jalan-jalan yang kami lalui saat malam hari. Kini lebih terlihat jelas, jalan-jalan itu. Yang telah membuat kami kelelahan. Kini hanya terus menurun, dan lebih cepat dan mudah dan tidak terlalu capek. Di perjalanan kami menemui pendaki lain. 
“Misi, pos berikutnya masih jauh ga?”. Pertanyaan yang sering ditanyakan dengan wajah yang kecapean, keringat mengucur membasahi kaos. Nafas yang tersengal-sengal. Dengan badan yang tidak bisa disebut kurus.
        “Sekitar setengah jam lagi”. Aku jawab mengira-ngira. Namun, ternyata saat mereka telah jauh kutinggalkan, aku baru ingat bahwa setengah jam adalah waktu aku turun ke bawah menuruni gunung ini.
Empat Sekawan
Retas
Me

Ulum
Rowi
Continue reading →
Senin, Agustus 29

MOMENT 13 44

1 komentar
         Sebenarnya acara ini udah berlangsung lama banget. Cuma gue pengen nulisin kembali tentang moment 13:44.
         Moment 13:44 tuh...acara persembahan anak-anak kelas sepuluh buat kakak kelasnya, kelas dua belas. Ini tuh acara tahunan yang suka dijalanin kelas sepuluh setiap tahunya. Nama acaranya juga, beda-beda tiap tahun. Buat tahun kemarin namanya android, kemarinnya lagi Unlimited, pokoknya beda-beda deh namanya. Tujuan acara ini…yaaaaa…banyak. Untuk menumbuhkan sikap nepotis (kasarnya) terhadap angkatan. Melatih anak kelas sepuluh buat berorganisasi sebagai bekal buat OSIS taon depan yang akan mereka emban secara Dominan. Isi acara tahunan ini sih,ada performance dari kelas sepuluh sama kelas dua belas. Tapi tergantung masing-masing acara tiap tahunnya. Isinya bisa berbeda juga. Intinya sih, acara ini suka diadain tiap tahun, tapi tiap tahunnya juga acaranya selalu beda. Tergantung sama kreativitas, ke-khasan angkatan masing-masing. Kalau diliat dari pendahulunya, acara ini termasuk gede dan meriah, soalnya atas nama angkatan masing-masing, bukan OSIS. So, ke-nepotisan angkatan yang ada, jadi penyemangat buat acara ini.
             Moment 13:44 ato “Most Memorable Event Sixteen to Fourteen” (bener gak yak Inggerisnya) Nama acara Tahun angkatan gue, Foranza Sillnova. Artinya Acara paling diingat 16 untuk 14. 16 angkatan gue-14 angkatan kakak kelas gue, Axivic Lunaris Mosinerati. Gue sebagai koordinator acara ini (bangga banget ya…!) merasa RINDU sama acara ini, pengen diulangin aja dan sekaligus TRHAUMA, soalnya gue pas acaranya emosi berat. HAHAHAHAH… (jangan di ceritain ah…trauma yakin!!!).
Welcome to Moment
Berubah...
              Persiapan buat acara ini udah cukup lamaaaa banget. Tertanggal bulan tahun 2010-an udah ditunjuk ketuanya. Panitianya? Udah juga sih. BPH angkatan yang waktu itu ketuanya HUDAAAA Al-Hakim langsung saja menunjuk Iqbal Maulana sebagai ketua acara ini. Langsung lah semua anggota angkatan ditunjuk jadi panitianya. Pas proses sih…cukup berat juga ngejalaninnya. Soalnya di Insan Cendekia Serpong, banyak kegiatannya. Kita bentrok sama kegiatan OSIS = ngumpul-ngumpul susah nyari waktu. Banyak Ulangan-banyak tugas yang kudu di-pertamakan supaya nilai rapot lulus kkm dan gak dikeluarin. Kasian mereka. Tapi, inilah puncak KENIKMATAN organisasi. Semakin banyak rintangan, semakin kuat untuk kedepannya. Jangan takut sama masalah---eaaaeaea….


             Mungkin buat moment 13:44 sendiri, tanggal acaranya berubah-ubah terus. Disesuaikan dengan kalender sekolah yang selalu berubah yang disebabkan sama KALENDER PENDIDIKAN yang lebih sering berubah (buat konsisten aja koq sussssaaaaaaahhhh yaaaa…a). Banyak program sekolah yang mepet-mepet. Ulangan lah, ato UN yang ga jlas tanggalnya. Bla-bla-bla. Akhirnya pada tanggal 15 Mei 2011 yang mana besoknya Ulangan Harian 4 yang 3 hari setelah UH 4 selesai ini ada UAS! Dan acara moment 13:44 bisa direalisasikan. Mepeeeet buanget tO. Kelas 12 udah selese UN-nya. Tapi gak apa-apa besok UH 4. Kalo misalkan Juni acaranya,,, kelas 12 udah wisudaan. Huh..terpaksa deh.
Ketua kita dan Photo Corrber... Eksis banget yang namanya ketua...


Ini anak-anak acaranya... Ada Aku juga...iyaahahaha...
             Di hari 15 Mei ini, semua udah dipersiapakan dengan matang. Kecuali plakat yang telat dateng dan tidak adanya plan B (ini yang bikin trauma tapi jadi evaluasi yang amat berharga). Tapi acara tetap berlangsung dengan meriah dan setengah penuh ketidakrencanaan. Tapi seru banget deh (ini yang bikin rindu). Dimulai dari jam 08:00 ngaret sejam setengah dan dibuka dengan opening lanjutin Saman yang “ngeselin” (hahaha…maaf ya… emang ngeselin sih dulu) terus dilanjutin band-band dan performance dari FORANZAXIVIC. Keren banget deh. Yang paling keren si…Shuffle sama puisi Berikat ato berkait ato mengait ato apalah itu (lupa!!!). Shuffle seru soalnya gue yang maen…hahahahaha… gak juga sih. Gara-gara ini pertama kalinya Supernova (nama grup shuffle kita) banyak Lancarnya daripada salahnya. Gue sama Rosyad pake sweeter biru terus Rizki sama Huda pake PINK eh…merah deh. Kita menari…ROCKING (Rizki sama Huda belum bayar Sweeter tuh, bayar dulu sini!!!). Kita latian mulu tiap sore selama seminggu full tanpa putus walalupun kpala puyeng dan banyak REMEDIAL di sekolah diloncatin dulu (kalo gw gitu), tapi ini asik koq…coba deh ah. Kalo puisi seru gara-gara ada Riding ____ ..haha.. enggaklah. Soalnya paling diperhatiin sama kakak Axivicnya. Walupun menurut gue bosen. Tapi keren sih. (puisi curang, tampilnya habis makan siang, jadi-nya perut mereka udah terisi- konsentrasi pun kembali). Tapi pas banget deh waktu tampilnya (makasih susunan acara yang GAGAL). Acara inipunselesai pada jam 4 sore dan dilanjutin photo-photo. Antara FORANZAXIVIC. Pulanglahlah kita jam setengah lima dengan pilox silver masih nempel di rambut gue juga celak di mata gue juga bedak di muka gue juga kertas tempelan di baju sama celana gue juga dan rasa senang yang masih nempel di hati gue ampe sekarang. Oh ya… Dekornya Keeewwwrreeen…pake meja bulet. 99r
Continue reading →
Kamis, Agustus 25

Foranza Sillnova

2 komentar
       Forza Esperanza Solidarity Will Never Vanish. Generasi Impian yang Solidaritasnya Tak Akan Pernah Luntur (Amiiin). Ini adalah nama angkatan ke 16 di MAN Insan Cendekia Serpong. Aku termasuk anggotanya. Meresmikan diri sebagai Foranza Sillnova pada jam 07:00 hari Minggu 10-10-10. Dengan acara peresmiannya yaitu “pamer” PASKIBRA lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Yang diawali dengan tepuk dada dan injak bumi.
            Eeeeee…Foranza (EEEEE…Foranza)
            Solidarity will never vanish for we all
            No one can destroy us because we are Foranza
            We promise will to be Solid team
            Eeeee…Foranza (EEEE…foranza)
            Eeeee…Foranza (EEEE…foranza)   
            Solidarity will never Vanish (Solidarity will never Vanish)
            EEEE Foranzaaa…
            Eeee FORANZA…
            EEEE FORANZA…
            We are one (For Foranza)
            We are here (For Foranza)
            FORANZA (SILLNOVA!!!) à Biasanya habis yel-yel tepuk tangan dan berteriak “HUUUUHH” sampai sekarang aku gak tau kenapa terus dilakuin. Yang penting Rame kali.
            Dari lirik lagunya memang sangat pas dengan sebuah kelompok. Aku harap yang selalu dinyanyikan ini benar ada realisasinya, tidak hanya ngomong doang dan tereak-tereak. Setelah yel-yel kami makan bareng di lapangan upacara. Makanan yang paling berkesan adalah permen. Sebenarnya banyak makanannya. Ada cokelat, biskuit, dan lain-lain.
            Komponen angkatan ini sangat beragam, dan sangat tidak sama latar balakang mereka masing-masing dari setiap daerah. Terkadang hati kesal menemukan orang yang mengacau dari dalam angkatan sendiri. Its OK, aku maklumi saja, dia hanya ingin mencari perhatian dan tidak memberi SOLUSI. Tapi itu dulu. Semuanya akan berjalan lebih baik seiring dengan waktu berjalan. Anggota Foranza ini berjumlah 120 orang berasal dari daerah dan sekolah yang berbeda dan ada beberapa yang sama. Ini merupakan nama-nama anggota Foranza Sillnova 120 orang.

1 111320860 ACHMAD FAIZIN 28/04/1995
2 111130865 AHMAD FAIZ SIHAM 25/10/1995
3 341112410 AHMAD RIFAI ASHARI 14/03/1996
4 111130872 AHMAD ROFIUDIN 09/10/1995
5 111320884 ALFIAN KUSUMADWARDHANA 24/03/1995
6 131121234 ALIFATIN NUR FAIZAH 06/11/1995
7 341152432 ALKHONSA ADIBAH 10/03/1995
8 341152434 AMALIA LUPITASARI 17/12/1994
9 101110576 ANASIYYA SITI LUTHFIYAH 05/01/1995
10 101110582 ANNISA DEVY MAHARANI 10/01/1996
11 281151798 APRESIO KEFIN FAJRIAL 19/01/1995
12 111120901 ARAFAH KHOIRUL UMMAH 13/10/1995
13 341122478 ARDA DILAH 11/09/1994
14 111110903 ARIEF FAQIHUDIN 11/01/1996
15 111110905 ARIFAH NUR HASANAH 11/07/1996
16 131321250 ARINA WIDDA FARADIS 10/09/1994
17 111110914 ATHIFAH QOTRUN NADA 13/04/1995
18 111120915 AULIA LITSA ARIFFIYAH 28/08/1995
19 341322505 AWALIYAH MUDHAFFARAH 19/08/1995
20 131121253 AYU NUR MAULIDIAN 10/06/1996
21 131321257 AZIZ ARDIANSYAH 18/07/1995
22 341132517 BARQI AZMI 17/03/1995
23 131321261 CHAIRUL RAJIB KUSNADI 10/12/1994
24 111120926 CITRA CHOIRUNNISA 15/07/1995
25 111120927 CITRA HUKMA ADILA 28/09/1994
26 111110934 DINI ACHNAFANI 14/12/1995
27 121111166 FAHIMATUL KHOIROH 19/03/1995
28 341152613 FAKHRI RIDHO DHIYAMATRA 21/09/1995
29 131111288 FARIS BAHAUDDIND 03/08/1995
30 121311170 FARIS JAISYI UMAM 05/04/1995
31 111110957 FEGA GIFARINA 18/08/1995
32 341122648 FIKRI MUHAMMAD 06/11/1995
33 341152657 FIRSTIO AHMAD SEPRIANDI 28/04/1995
34 341132664 FITRI RAMADHANI 19/02/1995
35 101110650 FITRIANI RAHAYU 31/10/1995
36 131121292 FUAD ADI ROSYADI 08/07/1995
37 101110654 GALANG GINANJAR RAMADHAN 10/02/1995
38 111130965 HAMMADA RAUDLOWI 31/10/1994
39 341152688 HANI ZAHRATUNNISA 03/08/1995
40 131121298 HANIFAH HIMAWAN 18/06/1996
41 341152695 HARIZ BAYU WICAKSONO 26/09/1995
42 111110970 HILDA NUR LAILA 22/07/1995
43 091120433 HILYATUL FADLIYAH 10/06/1995
44 111110971 HUDA AL HAKIM 14/05/1995
45 341122717 IBRAHIM ALFATIH 18/11/1995
46 121151175 IBTISAM KHOIRI QONITA 08/06/1995
47 121351176 ICHWAN FAKHRUDIN 07/07/1995
48 111120980 IMAN SANTOSO 03/01/1995
49 101110676 INDAH SULISTIAN 18/11/1994
50 111310981 INDANA AZIZA PUTRI 05/05/1995
51 341312737 INGGARLITA FAJRIN 13/01/1995
52 341112742 IQBAL MAULANA 04/05/1995
53 341322754 ITA RAHMATIKA 23/09/1995
54 121151179 ITQI RAHMATUL LAILA 21/02/1995
55 111320987 ITTA RAISAHWFITRIYANI 03/03/1995
56 111110991 KARIMATUL HIDAYAH 09/02/1996
57 181111539 KARINA FADILLAH AHMAD 27/03/1996
58 121111181 KHOIRUL FAHMI 06/03/1995
59 341122771 KHOIRUL HUDA 04/04/1995
60 121111182 KHOIRUNNISA ZUKHRUFIDDIN 17/03/1995
61 091120460 KHOLIFATUL MURSYIDAH 14/09/1996
62 341322781 LATHIFAH MUTHIAH 30/10/1995
63 111311008 M BASTOMI FAHRI ZUSAK 19/07/1995
64 091120470 MAWADDAH 09/01/1996
65 111131020 MIFTAKHUL A RIF 20/03/1995
66 131311339 MINAKHUS SANIA 28/05/1995
67 111131022 MOH NUR FAIZIN 19/11/1995
68 101140713 MOHAMAD IMAN FAUZI 28/10/1994
69 091320474 MOHAMAD RIFAI 14/01/1996
70 111131024 MUALLIMATUN NISA 05/11/1995
71 111311029 MUHAMAD QOMARUL HUDA 07/11/1995
72 341112858 MUHAMMAD AGUNG NUGROHO 10/01/1995
73 131121351 MUHAMMAD AJI MUHARROM 27/05/1996
74 111111033 MUHAMMAD ALI FAQIH 22/06/1995
75 341112861 MUHAMMAD ALI RIDHO 13/03/1995
76 111121037 MUHAMMAD DANIAL 25/07/1995
77 341322870 MUHAMMAD FADLY 13/03/1996
78 111121041 MUHAMMAD FARID ISWAHYUDI 30/07/1995
79 131111360 MUHAMMAD IRFAN HUSAMUDDIN 16/08/1995
80 101110731 MUHAMMAD IZZUDDIN PRAWIRANEGAR 28/11/1995
81 111121048 MUHAMMAD MIFTAHUL ULUM 23/01/1995
82 111111052 MUHAMMAD RETAS AQABAH 14/04/1995
83 341112893 MUHAMMAD YUSYA ASADILLAH 26/07/1995
84 131121371 MUHSON ARIFIN 03/08/2009
85 091110484 MUTHIA KHAIRUNISA 05/08/1996
86 131111373 NABILAH FAASICHA MARDLOTILLAH 04/11/1995
87 341152913 NADIA ANINDITA VANDARI 05/12/1994
88 341142914 NADIA IZATI SHALAHUDDIN 05/05/1995
89 111111060 NAILIL HUSNA 25/10/1995
90 121111191 NANDA PUTRI DIASSHIFATUL KARIM 02/02/1995
91 091320489 NARANTHICA PRASTICAWATI MALDHI 27/06/1996
92 111111068 NAUFI ULUMUN NAFI AH 03/01/1995
93 101110748 NIDA KHANSA NAZIHAH 13/10/1995
94 091120494 NORYANTO IKHROMI 30/08/1995
95 121331196 NUR ANISAH 21/03/1995
96 131121389 NUR AZIZAH ATIKA RACHMAN 11/02/1996
97 111131087 NURUL FITRIANA DEWI 09/03/1995
98 341142969 NURUL IFFAT WIRUSANTI 08/01/1996
99 091120504 PRAMAISHELLA SARASWATI 05/05/1996
100 131121396 QORRY AINA 16/06/1995
101 131121398 RAKA KURNIA RAMADHAN 02/02/1996
102 341133051 RIZKI NUR FITRIANSYAH 10/03/1995
103 091320513 RIZKY SAHLA TASQIYA 10/04/1995
104 121111202 RIZQI DWI CAHYADI 07/03/1995
105 131151407 ROSYAD HIZBUSSALAM MOHAMMAD 16/09/1995
106 111321108 SAMSUL ARIFIN 07/10/1994
107 121311204 SARAH FITRIA ROMADHONI 24/02/1995
108 091310523 SATRIA DIO ERLANGGA 01/01/1995
109 341323083 SHABRINA YASMIN GHASSANI 20/10/1994
110 121151205 SHALAHUDDIN ZULFIN 11/02/1995
111 121111207 SHOFA MUFTI YANA MAFAZATI 20/11/1994
112 101120816 SYAKIR MUHAMMAD ABDILLAH 09/02/1996
113 131111422 TALQAS SYAROFA YANI 17/01/1995
114 141321510 TAQWA ADITYA ATMAJA 08/08/1995
115 281111916 TRY ROEDYHANTORO MOHAMMAD 22/12/1994
116 131121425 UCI PUTRI MAULIDA 14/09/1995
117 111321128 UKHTI MAKHABBATI RIZQI SALIM 04/08/1994
118 111121138 WARDATUN NUGRAHENI 04/10/1994
119 341153181 ZAHRA NINDIRA RIZQIYANI 08/09/1995
120 131321440 ZIANA WALIDAH 30/09/1995
            Aku akui semakin hari Foranza tambah kompak dan Solid. Tidak lagi membedakan perbedaan yang ada. Kini semua rata. Kami murid ICS tinggal di satu tempat, bermain bersama, tertawa bersama, mandi pun bersama di satu gedung kecuali dengan lawan jenis. 
Foranza Outbond in PTS
            Ketua dan pemimpin angkatan ini selalu bergantian, sesuai dengan musyawarah dari Foranza itu sendiri. Ketua bergantian ini merupakan sebuah wujud saling percaya diantara kami bahwa semuanya dapat memimpin yang lain. Sehingga tidak terpaku dengan satu orang saja.
            Tertanggal 17 Agustus 2011 hingga 16 Agustus 2012 Foranza Sillnova secara dominan mengemban amanah sebagai pengurus OSIS dan MPS periode 2011/2012 yang bersama-sama dijalankan dengan adik kelasnya. Sebagai pengurus ini, Foranza dituntut untuk selalu kompak dan dapat memberikan contoh kepada adik kelasnya sehingga OSIS periode selanjutnya dapat lebih baik lagi dan lagi.
            Walaupun baru setahun lebih bersama Foranza, tetapi sudah banyak sekali moment yang tak terlupakan. Banyak hal baru yang aku senangi yang ditemukan disini, dan kadang banyak hal lama yang aku temukan dan ini membuatku amat bosan.
            Aku berharap LEBIH terhadap orang-orang yang ada di Foranza ini, selain karena mereka orang-orang pilihan juga karena aku Optimis mereka merupakan cikal bakal tunas Unggul Indonesia. Jangan khianati kepercayaan ini yaaa… FORANZA. Kita bangun Indonesia menjadi lebih baik dan kembalikan kejayaan Islam yang pernah sekali direbut…hanya satu kali.
            Tapi aku masih ada ganjal di hati, angkatan ini belum kompak sepenuhnya. Masih ada saja diantara kita yang mementingkan ideologinya sendiri secara “RADIKAL” dibandingkan dengan mufakat, kesepakatan, serta kepentingan bersama atau EGOIS. Aku harap semua akan menjadi lebih baik. Aku percaya koq. Percaya, percaya, aku gak pernah ragu terhadap sesuatu yang aku percayai.
Hey !!!aku banyak berharap ya…
Ini Baju Angkatan Kami

                                     
Continue reading →

Labels

Knowledge (11) Entertain (6) ME... (6) Travelling (5) Insan Cendekia (4) Pictures (4) Storystory (4) Foranza Sillnova (3) IPB (3) Renungan (3) Al Multazam (2) Event (2) Experience (2) Foranza (2) Panglima (2) Pertanian (2) blog (2) Announcment (1) Art (1) Community (1) Family (1) Full Living (1) Herbal (1) IC (1) Special (1)